Siapa yang Untung?

Posted on November 18th, 2009 in Review | 1 Comment »

Sangat sulit untuk mengulas atau mereview sebuah blog, apalagi topik yang akan saya ulas berhubungan dengan kontes blog yang dilakukan oleh Pertamina sangat terbatas. “Kerja keras adalah energi kita”, demikian slogan Pertamina yang menjadi topik kontes blog tersebut.

Sebuah laman yang sudah lama saya kenal dan masuk dalam blogroll saya yaitu dusunlaman turut meramaikan kontes blog ini yang mengundang saya untuk mengikutinya. Awalnya saya tidak tertarik untuk mengikuti, tetapi seperti dusunlaman yang meyakinkan saya, ini adalah salah satu metode untuk meningkatkan ranking di berbagai search engine dan traffic engine yang menjadi barometer bagi level sebuah website, disamping itu juga tempat untuk menyalurkan unek-unek ke dalam bentuk sebuah tulisan dengan harapan banyak dibaca oleh para netter.

Dusunlaman, berpikir global untuk prabumulih (kalau saya tidak salah mengartikan, mohon maaf jikalau salah), dalam salah satu tulisannya yang diikutsertakan pada pertamina blog contest yaitu “Kita Untung Bangsa Untung”, Lebih Nendang! saat ini mungkin banyak benarnya.

Menurut blog ini, slogan yang lama ini lebih nendang, karena lebih nasionalis. Walaupun tetap saja rakyat yang merasa buntung, karena dalam dekade terakhir terjadi beberapa lonjakan harga yang tinggi dan berdampak kepada industri hulu sampai hilir, dan tetap saja konsumen akhir yang menanggung beban kenaikan harga consumer goods.

Dampak lain juga terjadi kepada persaingan bisnis retail Pertamina sendiri, karena Indonesia menerapkan harga minyak berdasarkan harga minyak mentah dunia, bisnis retail ini tidak lagi monopoli Pertamina.
Menurut saya, ada beberapa catatan blog dusunlaman ini yang saya simpulkan, yaitu:

  • Slogan yang lama “Kita Untung Bangsa Untung” berorientasi pada pasar, kalau saya tidak salah, intinya kekhawatiran terhadap produk pesaing Pertamina yang banyak dijumpai di pasaran (dengan berlindung pada perisai slogan bernada nasionalis).
  • Slogan yang baru “Kerja Keras adalah Energi Kita” berorientasi pada sumber energi migas yang harus dikelola Pertamina, yaitu pengelolaan ladang minyak onshore yang telah dimiliki, eksplorasi ladang offshore dalam wilayah Indonesia dan manca negara, mengakuisisi blok-blok potensial, yang intiya adalah memperoleh energi sebanyak mungkin.
  • Kolaborasi kedua slogan di atas dapat menjadi kekuatan dahsyat bagi bangsa ini dan khususnya bagi Pertamina.

Jangan sampai kekhawatiran kita semua terwujud sehingga “Siapa yang Untung?”

Pertamina Jago Kandang

Posted on November 7th, 2009 in Info, Review | 3 Comments »

Pertamina jago kandang, hmm.. siapa bilang? Yang berpikiran Pertamina jago kandang, pasti tidak suka memperhatikan berita di televisi, membaca koran, atau melirik media terbitan Pertamina dan hanya suka pada infotainment gosip murahan tentang artis yang kawin cerai.

Sepuluh tahun terakhir Pertamina mengalami perubahan yang cepat. Pertamina mengincar sumber-sumber migas di luar negeri. Awalnya memang join dengan perusahan migas luar negeri kemudian mulai merambah ke manca negara.

Saat ini Pertamina mengelola ladang migas di Irak, Malaysia, Libya, Sudan, Qatar, dan Australia dan mengakuisisi ladang lepas pantai di utara jawa barat milik BP West Java Ltd. Bukankah ini sangat membanggakan bangsa Indonesia? Pertamina semakin dekat menjadi National Oil Company (NOC) kelas dunia.

Pertamina melakukan tiga terobosan penting. Pertama, Pertamina merambah ladang-ladang minyak di beberapa negara. Kedua, Pertamina tidak hanya menggarap ladang minyak di darat, tetapi sudah merambah ladang minyak lepas pantai. Ketiga, Pertamina berani mengakuisisi blok-blok migas dan membeli Participating Interest blok yang masih ekonomis.

Industri hulu Pertamina telah bermetamorfosis, begitu pun industri hilirnya. Pertamina berani berkompetisi dengan perusahaan kelas dunia dalam menyediakan Pelumas berkualitas tinggi, bukan hanya di dalam negeri, juga meluncurkan pelumas untuk pasar konsumen di negeri kangguru. Ini salah satu bukti slogan “Kerja Keras adalah Energi Kita”.

Mudah-mudahan semangat Pertamina menjadi Perusahaan Minyak Nasional kelas dunia dapat cepat terwujud. Seperti harapan saya dalam mengikuti:

Pertamina Blog Contest


Anda Patut Mencoba yang Satu Ini

Posted on October 26th, 2009 in Info | No Comments »

Bagi para blogger yang biasa mereview atau para pemasang iklan, anda patut mencoba yang satu ini: Reviewmu

Menurut si empu-nya website ini, di sinilah tempat pertemunya antara blogger dan advetiser yang pertama di Indonesia. Bagi yang penasaran silahkan mencobanya.

Berikut adalah cara untuk memulainya:

1. Daftarkan Blog Anda

Dengan mendaftarkan blog anda pada jaringan reviewmu[dot]com, pemasang iklan dapat mencari anda dan dapat langsung membeli review dari anda. Tentukan harga yang anda inginkan, anda memiliki kebebasan untuk menerima atau menolak tawaran dari pemasang iklan. Sekali anda menerima tawaran review, anda harus menyelesaikannya dalam jangka waktu 7 hari.

2. Mencari Advertiser

Anda dapat mencari job dalam jaringan kami untuk mencari pemasang iklan dengan produk atau jasa yang anda ingin tuliskan reviewnya. Bila diterima, anda harus menulis review tersebut dalam blog anda dalam jangka waktu 7 hari.

Shopping Guide of Jewelry and Watches

Posted on October 24th, 2009 in Review | No Comments »

Jewelry and watches are always the latest models. Jewelry is a good reason for chosen because the jewelry is very save with our skin and its beautiful thing. Jewelry is something that can beautify the appearance, with the trendy jewelry that looks more attractive and made your confidence. Watches, beside as a tool to show the time, also part of the jewelry with unique designs and tailored to the needs and tastes of consumers.

Three months ago, when I was looking for a suitable gift for my wife who has several times given instructions about her desire to be able to obtain one of the two as a surprise gift on her birthday: jewelry or watches. A friend of my wife who lived in the same town have a piece of jewelry with a beautiful glittering stone. Although my wife was allowed to try and use it when going to the wedding of another friend of my wife, but my wife wants to has her own jewelry.

I tried to give what is desired by my wife and started looking for where I can get it with a guaranteed quality. After a variety of ways I seek, on the internet I found what I was looking for the site that provides information relating to jewelry and watches. This site provides a guide to how buy jewelry and watches. Types of jewelry in this guide is very complete, including the usual bought for engagement and wedding ring and the birthstones are finding only on this site. To you who confused to buy jewelry or a watch, this site can be your guide to shop for jewelry and watches.

About Export

Posted on October 1st, 2009 in Info | No Comments »

Source: wikipedia

In economics, an export is any good or commodity, transported from one country to another country in a legitimate fashion, typically for use in trade. Export goods or services are provided to foreign consumers by domestic producers. Export is an important part of international trade. Export of commercial quantities of goods normally requires involvement of the customs authorities in both the country of export and the country of import. The advent of small trades over the internet such as through Amazon and e-Bay has largely bypassed the involvement of Customs in many countries due to the low individual values of these trades. Nonetheless, these small exports are still subject to legal restrictions applied by the country of export. An export’s counterpart is an import. For more information about export can be read in all about gray.

Vegetarian

Posted on December 5th, 2008 in Sajak | No Comments »

            “Nasi ayamnya berapa, Bu?” Tanya Ken kepada pelayan warung nasi di simpang lampu merah Bukit Besar.

            “Tiga ribu
lima ratus. Mau makan di sini atau semuanya dibungkus?” jawab pelayan yang ditanya.

            “Iya. Dibungkus.”  Jawabku.

            “Berapa bungkus?” Tanya pelayan itu juga.

            “Lima bungkus.”

            “Tapi tunggu sebentar, yah. Nasinya belum cukup. Sebentar lagi juga matang.”

            “Kalau nasi pergedel, berapa?” Tanya Ken lagi.

            “Dua ribu.”

            “Nasi terong?”

            “Survey harga, yah?” Tanya Syam kepada Ken yang mulai kumat isengnya, “Atau mau buka warung nasi?”

            “Seribu dua ratus.” Jawab pelayan itu lagi.

            “Kalau begitu nasi tahu, saja.” Kata Ken, dan kemudian ia berbisik kepada Syam, “Aku titip tempe di bungkusan kau, yah?”

***

            Saat itu ada enam orang yang berkumpul di ruang sempit dan penuh asap rokok. Kamar, kalau dapat disebut demikian, yang berukuran sembilan meter persegi tersebut disekat dengan triplek pembatas. Sebagian digunakan sebagai gudang tempat menyimpan kasur dan bagian depan ditata supaya kelihatan apik dan luas. Buku-buku yang biasanya disusun di rak, terpaksa diikat dengan tali plastik dan sebagian dimasukkan ke dalam kardus-kardus dan ditempatkan di atas lemari tempat pakaian dan perlengkapan adventure.

            Sebenarnya yang tinggal di tempat (bedeng) tersebut, hanya dua orang. Pada saat seperti ini saja cukup ramai. Kelakar, buat program, atau cuma sekedar kumpul-kumpul.

            “Aku heran, sejak Ken pulang dari Bandung, ia berubah. Sekarang ia menjadi pemakan …, apa itu namanya? Seperti kelinci saja.”

            “Bukan…”  Sela Syam kepada Agus, “Bukan seperti kelinci, tapi seperti kindaro[1] tolol yang malu-malu ketika interest pada sesuatu.”

            “Mungkin, ia sekarang sedang ngelmu.” Kata Heynce menanggapi ucapan Syam dan Agus.

            “Menurutku, karena ia sudah kehilangan empat Syech-nya yang cuma sebelas itu.” Kata Aris berkomentar. “Jadi ia harus membujuk syech-nya yang hilang itu dengan tidak memakan semua yang berbau hewani supaya balik lagi.”

            “Yang jelas, ia sekarang buntu. Buktinya kemarin dan setiap makan bersama kami ia selalu cuma pesan nasi tempe walau porsinya berlebihan untuk orang yang sedang diet.” Kata Syam.

            “Tapi bisa jadi, ia sekarang ingin moksa.” Sambung Aris.

            “Atau..” Kataku, “…ia sedang belajar memakan serat-seratan tanaman, kemudian daging-dagingan supaya tidak kaget, baru kemudian menjadi kanibal. Tapi itu mungkin saja lho, ia sudah memperkirakan bahwa negara tercinta kita ini tidak mampu lagi menghasilkan tanaman dan ternak, sehingga harus siap-siap menjadi pemangsa yang lemah.”

            “Jangan begitu, ah… Aku jadi merinding.” Kata Atuk. Di dusunku masih banyak yang dapat dilakukan untuk menghasilkan makanan.”

            “Tapi, bukankah semuanya sudah dimodifikasi, tidak alami lagi, sudah banyak zat tambahan, terutama bahan kimia.” Sambungku.

            “Sudahlah, kita kan sekarang sedang bahas masalah Ken yang berubah. Jangan melencenglah.” Kata Heynce.

            Memang, banyak kemungkinan Ken menjadi vegetarian. Walaupun itu hal yang lumrah, tapi kami merasa ada hal yang aneh, pasti ada tujuan tertentu. Aku tahu selama ini ia sudah aneh, dan setiap ia muncul ada-ada saja kelakuannya yang menurut kami tidak masuk akal. Alasan-alasan ia menjadi vegetarian, aku heran, selalu terlintas dibenakku, dan menjadi bahan perdebatan yang menarik di antara kami.  Mungkin ia memang sedang diet, tapi bukankah badannya yang kerempeng tersebut lebih cocok kalau alasannya mau merasakan hidup prihatin.  Ia alergi, tapi tidak, ia cuma alergi pada kompor, katanya trauma.  Lebih masuk akal kalau ia sekarang mengikuti aliran tertentu.  Benar, setiap beberapa hari dalam seminggu ia tidak berada di rumahnya, padahal kami tahu ia orang yeng betah di rumah, atau kalau tidak ia akan lebih senang jika berkumpul dengan kami.

            Sepuluh tahun lebih aku mengenalnya, tapi aku merasa tidak benar-benar mengenalnya.  Entahlah.  Menurut hasil diskusi yang dalam beberapa hari ini terus kami lakukan untuk membahasnya, kami berkesimpulan bahwa yang tahu alasan mengapa Ken sekarang menjadi seorang vegetarian adalah Qijo di Bandung, karena kami tahu beberapa minggu yang lalu Ken ke Bandung dan diajak oleh Qijo dan teman-temannya ke suatu tempat yang menurut orang keramat.  Tugas kami sekarang adalah menghubungi Qijo untuk meng-klarifikasi kelakuan Ken sekarang.

***

            “Halo, ada Ical.” Kata Atuk menanyakan nama kecil Qijo di telepon. 

“Yah, saya sendiri.”

Dan akhirnya kami pun tahu penyebab Ken menjadi vegetarian.  Ini semua provokasi dari Qijo.  Tetapi salah Ken sendiri yang percaya dengan kata-kata Qijo.

***

            Meski akhirnya Ken boleh bangga, dengan jerih payah dan keyakinannya ia diterima menjadi Sinder, asisten lapangan, di sebuah perusahaan perkebunan milik pemerintah.

***


[1] Pelesetan monyet yang dibuat Qjo dalam bahasa Jepang.

Tentang Kebebasan

Posted on December 5th, 2008 in Sajak | No Comments »

            “Setelah mempertimbangkan usul dari kawan-kawan, bahwa acara pertemuan ini harus segera kita dimulai de…”

            “Tunggu dulu,” kata-kata Achingae tersebut dipotong oleh Aris. “Siapa yang menunjuk anda untuk memimpin pertemuan ini?”

            “Iya, benar.” Sambung Atuk, “kita harus sepakati dahulu”

            “Yang mana harus kita sepakati terlebih dahulu,” kata Halim. “Apakah siapa yang harus memimpin pertemuan ini yang pertama kita sepakati, ataukah siapa yang akan memimpin musyawarah untuk mencapai kesepakatan siapa yang memimpin pertemuan ini?”

            “Tapi …?” Iip bingung hendak melanjutkan kata-katanya.

            “Tapi, mengapa?” Tanya Qijo yang juga bingung dan ingin mendengarkan kelanjutan kata-kata Iip.

            Semua mata memandang kepada Iip. Pertemuan ini dihadiri oleh 13 orang, 5 orang diantaranya adalah wanita. Ke-13 orang ini bertemu ingin membicarakan sebuah rencana kegiatan dan mereka mencoba menerapkan persamaan hak setiap orang, sebelum rencana yang akan dibicarakan dimatangkan.

            “Begini,” lanjut Iip. “Siapa yang akan memimpin acara untuk membuat keputusan orang yang akan memimpin musyawarah untuk mencapai kesepakatan siapa yang memimpin pertemuan ini?”

            “Iya, yah.” Gumam beberapa orang.

            Tia yang biasa menjadi sekretaris baik dalam satu kegiatan maupun dalam organisasi bertanya karena penasaran, “jadi, usul siapa yang harus kita terima?”

            Semua menjadi bingung, semua usul dan pertanyaan tersebut mendesak untuk dijawab. Sal yang kontraversi nyeletuk, “bagaimana kalau semua usul dan pertanyaan dicatat.”

            “Jangan menambah masalah, dong.” Kata Ija. “Siapa yang akan mencatat? Lha wong yang akan memimpin pertemuan ini tidak ada.”

            Memang usul Sal dapat diterima, kalau permasalahannya tidak serumit sekarang dan memang dibuat rumit. Semua menjadi bingung. Pembicaraan pokok yang akan dibicarakan belum sedikitpun disinggung. Mereka sama-sama berpikir dan jalan pikiran mereka sama, tapi pandangan mereka berbeda. Cukup sederhana, tapi pelik, memang.

            “Boleh, saya bicara?” tanya Elis yang sejak awal diam tidak mengeluarkan pendapat.

            “Tunggu.” Kata Atuk, sebelum yang lain memperbolehkan Lis bicara. “Saya juga ingin bicara dan kupikir tidak seorangpun diantara kita yang dapat memutuskan apakah Elis boleh bicara atau tidak. Saya pikir kita harus segera memutuskan siapa yang akan memimpin pertemuan hari ini.”

            “Maaf.” Potong Ofie, “Sebelumnya kita harus memutuskan dan menunjuk orang yang akan memimpin musyawarah untuk menentukan pemimpin pertemuan hari ini.”

            “Dan …,” sambung Ichi dan Ifan berbarengan yang diteruskan oleh Ichi sendiri, “Sebelumnya kita harus menentukan pimpinan yang akan memimpin musyawarah dalam penunjukan pimpinan pertemuan hari ini.”

            Ke-13 orang yang menghadiri pertemuan tersebut berusaha berpikir keras, dahi mereka berkerut, alis mereka hampir bertaut. Mereka berdiam diri beberapa saat sampai akhirnya Ifan memecah kesunyian dengan usul cemerlangnya. “Bagaimana kalau kita makan bakso dulu?” Ketika melihat tukang bakso lewat, “dan saya yang akan mentraktir anda semua.”

            “Sepakat.” Jawab ke-12 orang lainnya serentak.

            Sekarang tukang bakso yang repot melayani ke-13 orang tersebut dengan pesanan berbeda-beda. Ada yang tidak pakai mie, tidak pakai penyedap rasa, atau sambal. Yang lebih gila lagi, ada yang memesan tanpa sendok, memangnya mau makan dengan mengobok-obok isi mangkok? Hihh, sereem..!

            “Bagaimana kalau kita minta Mamang tukang bakso untuk memimpin musyawarah pertama untuk menentukan siapa yang akan memimpin musyawarah dalam penunjukan pimpinan pertemuan hari ini?” Usul gila Ijah, ketika mereka semua sudah selesai makan.

            Semua memikirkan usul Ijah dan mereka mengangguk setuju. Untung saja Mamang tukang bakso setuju, ketika diberi kehormatan untuk memimpin ke-13 orang tersebut walaupun untuk satu keputusan. Kalau tidak … sulit dibayangkan.

            Dan pertemuan pada hari tersebut tidak sia-sia dalam mencapai kesepakatan siapa yang memimpin pertemuan pada hari tersebut.

Sajak Debu

Posted on December 5th, 2008 in Sajak | No Comments »

        Sejauh ini aku merasa normal, meski katamu ukuranku mikron.  Mungkin kau benar dan kau yang punya kuasa berpikir, Meski tak dapat diingkari kau berasal dariku dan akan kembali menjadi aku, demikian takdirnya.

        Aku, sampai saat ini tidak pernah sendiri.  Tetapi tentu saja jika sengaja kau pisahkan, aku menjadi tunggal dan itu bukanlah aku, karena aku (jamak) adalah debu.  Aku selalu mempunyai kawan.  Kawanku tak terhitung jenisnya, apalagi jumlahnya, lebih bijaksana jika kusebut saja kawan-kawanku dengan mereka.  Mereka, setiap jenisnya merupakan struktur yang jarang berdiri sendiri.  Aku bersama mereka membuat koloni yang besar dan membuat manfaat besar bagimu, tapi hati-hati, bila kau salah bertindak aku dan kawan-kawanku mendatangkan bencana.

        Aku tidak pernah kesepian, meski di sini sunyi, mereka selalu bercerita padaku tentang daerah-daerah yang tidak pernah kulihat.  Kata mereka aku ada dimana-mana.  Aku percaya, kebohongan tidak pernah ada di antara kami.  Aku sudah bersama mereka sejak aku belum mempunyai nama, bahkan jauh sebelum kau ada.  Mereka melihat aku, sulit kubayangkan, di dasar palung-palung yang gelap, di puncak gunung-gunung yang tinggi, menjadi bagian dari awan-awan yang dari sini kelihatan putih dan menawan, di bawah lapisan salju, dan di padang-padang pasir yang panas. 

Aku senang mendengar mereka bercerita, tentang pengalaman mereka yang menakjubkan.  “Sering …”  kata mereka  “… kita mengaramkan kapal dengan menjebaknya dalam badai.”  Selalu, setiap mereka bercerita, aku ingin sekali berada di sana, membuat badai yang besar, meluapkan sungai, dan membuat longsor.  Meski aku tahu bahwa aku ada di sana, tapi selalu ada perbedaannya.

Sampai pada hari ini, harapanku akan menjadi kenyataan, aku sengaja mengikuti langkah sepatu boot seorang pemburu dan berpegangan erat pada alasnya takut kalau-kalau impianku akan terputus.  Aku terlena dan tertidur ketika sedang menikmati irama langkah sang sepatu dan baru terjaga ketika mendengar sapaan mereka yang segera kukenali, kawan-kawanku.

“Selamat terjaga, kawan.  Dan inilah realita.”  Mereka tersenyum ramah.

Aku membalas senyum mereka, “Realita? Apakah aku selama ini bermimpi? Dan dimanakah aku sekarang?”

“Tidak, engkau tak pernah bermimpi. Ini akan menjawab pertanyaanmu selama ini. Jangan khawatir, engkau berada dalam perlindungan kami.  Engkau hendak kemana?”  Mereka berputar-putar di sekelilingku.

“Aku mengikuti impianku yang ingin berada dalam sebuah petualangan yang menakjubkan.  Sebuah badai misalnya.”

“Ha… ha… ha….  Dengarlah gemuruh ini dan rasakan, engkau sekarang ikut dalam petualangan ini, bersama banjir bandang, dan telah menjadi agenda kita setiap tahun.”

Wow!  Seindah inikah?”

“Ini belum seberapa, rencananya untuk yang akan datang akan kita buat yang lebih dahsyat.”

“Aduh!”

“Ada apa? Kau tidak suka? Tidak senang…?”

“Bukan begitu…, aku pusing.  Antarkan aku ke darat.”

“Engkau hanya belum terbiasa.  Tidurlah!  Kami akan menjagamu dan mengantarkanmu ke darat.”

Aku terjaga di tempat yang kering, benar-benar kering dan membuat aku menjadi ringan.  Aku menjadi mudah bergerak dan ini tidak kusukai.  Meski di sini aku menjumpai teman-teman lama, tapi selalu saja aku merasa asing.  Dan tiba-tiba aku telah membubung tinggi ke langit, menembus mega, melintasi samudera, aku semakin terasing.  Belum lagi angin yang mengajakku berputar-putar menghalau nelayan, membantu laut menerjang karang yang angkuh menantang.  Inilah topan, puting beliung, badai dan entah apa lagi kau namakan. Aku menjadi tumpuan kawan-kawan kecilku yang membuat lidah api di antara gemuruh angin.  Aku mual dan berharap ini segera berakhir.

Petualangan seperti ini tidak kusuka, aku salah selama ini. Seakan-akan semua menghukumku, aku terjebak dalam kebimbangan.  Terlontar dari satu peristiwa kepada peristiwa lain, dan sekarang aku kembali membubung tinggi ke angkasa di selimuti awan gelap.  Tidak, inilah diriku saat ini, menjadi hitam bersama kawan-kawanku yang sebelumnya merah membara.  Aku letih, benar-benar letih.

Kanker Otak

Posted on December 5th, 2008 in Sajak | No Comments »

            Sementara mataku tak dapat dibuka, teraso berat nian, dari tenggorokanku keluar suara gerungan, mirip suara hewan yang disembelih, atau seperti marahnya seekor harimau, tapi bukan auman; beruang mungkin.  Mulutku cuma mampu sebelah terbuka, pada bagian kanan. Gigiku terkatup rapat.  Dalam benakku bermunculan dugaan, “apakah aku sekarang sedang kemasukan roh binatang buas?” Tapi itu kutepis, aku yang realistis tak mungkin berpikiran seperti ini.  Aku tak percaya takhyul. “Atau mungkinkah aku terinfeksi virus atau bakteri?  Mungkinkah…?”  Dan aku tak sadarkan diri.

            Aku kembali tersadar dan kaget oleh gerunganku sendiri, lebih keras.  Mataku tetap tak dapat kubuka.  Seluruh bagian otak kiri kufungsikan untuk berpikir, “Ini adalah mimpi.”

“Tidak! Ini bukan mimpi” Bantah otak kiriku.  “Tapi, bukankah alam bawah sadar tidak pernah beristirahat selama 8.766 jam setahun, dan pada saat tidur aktivitasnya lebih banyak, kadang-kadang ke tempat yang tidak kita inginkan.”

            Aku berhenti berpikir, yang kuperlukan sekarang adalah bagaimana aku dapat keluar dari kemelut ini.  Bila ini mimpi aku ingin segera mengakhirinya, sungguh menakutkan bila ini adalah benar.  Aku butuh pertolongan. Cogito ergo sum cogitan”, keluhku mengutip teori Descartes1.

            “Dina!”, teriakku memanggil adikku, tapi suaraku yang keluar hanya berupa gerungan, atau telingaku kah yang tak beres? Telingaku baru seumur hidungku.  Aku tersadar, hidungku pun tak berfungsi, tidak kucium bau comberan, limbah industri pempek panggang tetanggaku yang selama empat bulan terakhir selalu tercium, meski itu tak membuatku sesak napas.

            “Emak!”  Lolongku memanggil ibuku. Tetap tak ada yang merespon.  Kusadari pula bahwa mataku hanya melihat kelam.  Ingatanku tak dapat merekam gambar keseharian yang biasa kulihat, juga tangan kurusku.

            Aku marah, emosi.  Marah pada diriku sendiri yang tak dapat mengendalikan hormon adrenalin dalam tubuhku.  Seluruh otot di tubuhku menegang, aku benar-benar satu sekarang.  Satu dalam nafsu amarah yang menguasai seluruh jalan pikiranku.  Seharusnya aku menyendiri sekarang, aku takut ini tak terkendali dan pada akhirnya merugikanku sendiri.  Semua tampak hitam kelam bergulung-gulung menyatu dengan jasad dan rohku.

            Aku mencoba bangun, tenagaku tak dapat kukuasai.  Semuanya bertambah kacau, meski aku berusaha keras untuk menguasai jalan pikiranku dan menuntunku perlahan kepada realita, tetapi hanya semu yang kudapat.

            Aku tetap berusaha, entah berapa lama aku dalam keadaan bingung, marah, dan putus asa.  Secara perlahan aku dapat mengendalikan syaraf di otakku dan menurunkan hormon adrenalin yang menguasai tubuhku.  Untuk bangun aku belum bisa dan aku hanya bergulingan di atas tempat tidur yang menjadi basah.  Aku terjatuh dari dipan.

            Tubuhku bertambah lemas dan aku hanya mampu bergeser, beringsut sedikit demi sedikit menuju pintu kamar yang bertambah jauh untuk kugapai.  Kemauanku saja yang membuat aku dapat keluar dari kamar.  Sementara, suara gerunganku makin kerap keluar, bahkan hampir tak berselang. 

Aku berhasil merangkak dan bergerak lebih cepat untuk mencari bantuan.  Kemana penghuni rumah ini yang biasanya tak pernah sepi? Bahkan pintu kamar adikku yang bungsu tertutup, biasanya selalu terbuka. “Hah…!?  Sejak kapan kamarnya punya pintu? Dan mengapa dindingnya dicat hitam.”  Semuanya masih kelam.

            Keringat mengucur deras, aku panik.  “Permainan apa ini?  Skenario apa yang sedang kujalani?”  Aku merasa semakin terasing, asing dengan keadaan sekitarku.  Kembali hormon adrenalin menguasaiku, dan aku berhasil berdiri, berjalan tertatih-tatih bertambah cepat, sampai dapat berlari di dalam ruangan yang terasa begitu luas ini.  Aku berlari menuju pintu keluar yang terlihat begitu dekat, tapi tak dapat kucapai.  Aku terus berlari, meski tubuhku tak sanggup lagi ikut serta.

            Pintu itu akhirnya terbuka.  Angin dingin menusuk ke tulang menerjangku, juga awan gelap tak kuundang datang menyapuku.  Dan aku terlempar ke satu tempat yang indah, sangat indah. 

Di tempat ini, semilir angin bagaikan gesekan biola, gemercik air bagaikan alunan melodi musik klasik dari sang maestro, dan bersama suara-suara alam membuat lagu yang mengiringi syair burung-burung dengan pencahayaan dari sang surya.  Dan inilah konser yang maha sempurna di tempat yang menebarkan berbagai aroma bunga.  Aku dapat merasakan kehadiran sahabat-sahabatku dan orang-orang yang kukasihi.

            Sampai aku tersadar benar-benar sadar, napasku memburu. Seluruh otot tubuhku terasa sakit dan pegal-pegal, tenggorakanku terasa gatal dan aku mulai batuk-batuk.

***

 

Parameswara, 18 Desember 2002 (09.16)

Sebuah sajak buat kawan-kawan di dunia cyber.


1    Cogito Ergo Sum Cogitan:  Aku adalah pengada yang berpikir.

Tigaperempat Hari di Musim Hujan

Posted on June 20th, 2006 in Info | No Comments »

Jalan aspal yang licin setelah diguyur hujan tidak membuat kendaraan yang berlalu lalang mengurangi laju kendaraannya di jalan lintas yang melewati kota tempat aku tinggal. Kerap aku berpikir, apa yang mereka kejar, baik mobil atau pun motor. Toh, hujan sudah berhenti. Mereka pasti punya alasan, YA pasti.

Belum lama aku mengamati kesibukan di jalan dari lantai dua tempat aku tinggal, dari arah sebelah kanan meluncur sebuah sepeda motor tanpa pengemudi. Aku terkejut, koq bisa?… Motor tersebut terus bergerak di atas kedua rodanya dan semakin miring akhirnya meluncur di atas body kirinya menimbulkan suara bising dan percikan api dan terlempar sampai 50 meter.

Dimana pengemudinya? Aku celingukan menoleh ke kanan-kiri. Sepertinya si pengemudi adalah orang yang berusaha berdiri dan bersama seorang yang diboncengnya tertatih ke pinggiran jalan. Mereka mengenakan seragam putih - abu-abu. Hmm, anak SMA.

Motor tersebut menyerempet bagian belakang kanan sebuah mobil taft yang juga meluncur dengan cepat. Mobil tersebut terus meluncur dan melambat seiring motor yang mendesing di sebelah kanannya. Pengemudi mobil memarkir mobilnya di tepi jalan dan turun ke jalan mengangkat motor yang mesinnya telah mati dan membawa lari motor tersebut ke arah datangnya motor dan membelok ke jalan kecil persis di depan kantor tempat aku tinggal. Si pengemudi mobil berusaha untuk menghindari keramaian akibat kecelakaan tersebut, dan juga menghindari kemungkinan adanya pihak kepolisian yang mencium wanginya uang akibat kelalaian pengguna jalan. Pemikiran yang cepat dan cerdas, dengan tindakan tersebut si pengemudi mobil hanya menghadapi satu pihak, sehingga kerugian dapat ditekan.

Sejak delapan bulan yang lalu, aku menapakkan kaki di sini, sudah sering aku menyaksikan kecelakaan lalu lintas. Dalam hitunganku, sudah enam kali kusaksikan secara langsung (live). Kata beberapa orang yang sering bergunjing setiap terjadi kecelakaan di lokasi yang sama di jalan lintas ini, di daerah ini ada jin penunggu pohon cempedak. Pohon tersebut memang sudah tua, dan beberapa rumpun tanaman salak, dua batang pohon durian, sebatang pohon alpukat, dan beberapa pohon kelapa yang tumbuh pada sebidang tanah persis di sebelah gedung tempat aku tinggal menambah seram daerah ini. Beberapa pengemudi motor yang pernah mengalami kecelakaan di daerah ini, sebelum terjadi kecelakaan mereka seperti melihat sesosok makhluk hitam dan besar di bawah pohon cempedak yang kanopinya memang sampai menutupi seperempat badan jalan. Aku tertawa dalam hati, dan mungkin kalian juga akan tertawa, kalau anda tahu dan melihat sendiri cara orang-orang berkendaraan.

Mereka semua rata-rata tidak memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM), setahu saya seseorang baru boleh mengemudikan kendaraan jika memiliki SIM dan telah berusia di atas 17 tahun, toh… di sini anak-anak SMP pun banyak yang mengendarai motor. Mereka, terutama pengemudi kendaraan roda dua, kalau mau masuk ke lorong sebelah kanan atau kiri jalan, tanpa aba-aba langsung nyelonong, meski di belakang dan hadapannya ada kendaraan yang melaju lurus dan kalau tidak hati-hati akan menabrak si pengemudi yang nyelonong tadi. Di sini juga banyak dijumpai pengemudi yang menggunakan jalur berlawanan (melaju di sebelah kanan jalan), sehingga kendaraan dari arah yang benar terpaksa memakan jalur di sebelahnya.

Kembali ke isu jin penunggu pohon cempedak, mereka yang mengalami kecelakaan mencari kambing hitam untuk menutupi kesalahan mereka, bahwa mereka tidak bisa mengemudi, mereka tidak hati-hati, dan mereka tidak mematuhi aturan lalu lintas. Semoga anda, jika sempat ke sini, terhindar dari musibah karena kelalaian pengemudi di sini. Trotoar pun di sini banyak yang sumbing, karena di seruduk motor dan mobil. Hati-hati memarkir kendaraan, kalau bisa masuk ke lahan khusus parkir atau ke halaman gedung atau rumah, karena tidak ada jaminan selamat dari serudukan mobil dan motor. Kota tempat saya tinggal ini bernama LUBUKLINGGAU.