Tigaperempat Hari di Musim Hujan
Jalan aspal yang licin setelah diguyur hujan tidak membuat kendaraan yang berlalu lalang mengurangi laju kendaraannya di jalan lintas yang melewati kota tempat aku tinggal. Kerap aku berpikir, apa yang mereka kejar, baik mobil atau pun motor. Toh, hujan sudah berhenti. Mereka pasti punya alasan, YA pasti.
Belum lama aku mengamati kesibukan di jalan dari lantai dua tempat aku tinggal, dari arah sebelah kanan meluncur sebuah sepeda motor tanpa pengemudi. Aku terkejut, koq bisa?... Motor tersebut terus bergerak di atas kedua rodanya dan semakin miring akhirnya meluncur di atas body kirinya menimbulkan suara bising dan percikan api dan terlempar sampai 50 meter.
Dimana pengemudinya? Aku celingukan menoleh ke kanan-kiri. Sepertinya si pengemudi adalah orang yang berusaha berdiri dan bersama seorang yang diboncengnya tertatih ke pinggiran jalan. Mereka mengenakan seragam putih - abu-abu. Hmm, anak SMA.
Motor tersebut menyerempet bagian belakang kanan sebuah mobil taft yang juga meluncur dengan cepat. Mobil tersebut terus meluncur dan melambat seiring motor yang mendesing di sebelah kanannya. Pengemudi mobil memarkir mobilnya di tepi jalan dan turun ke jalan mengangkat motor yang mesinnya telah mati dan membawa lari motor tersebut ke arah datangnya motor dan membelok ke jalan kecil persis di depan kantor tempat aku tinggal. Si pengemudi mobil berusaha untuk menghindari keramaian akibat kecelakaan tersebut, dan juga menghindari kemungkinan adanya pihak kepolisian yang mencium wanginya uang akibat kelalaian pengguna jalan. Pemikiran yang cepat dan cerdas, dengan tindakan tersebut si pengemudi mobil hanya menghadapi satu pihak, sehingga kerugian dapat ditekan.
Sejak delapan bulan yang lalu, aku menapakkan kaki di sini, sudah sering aku menyaksikan kecelakaan lalu lintas. Dalam hitunganku, sudah enam kali kusaksikan secara langsung (live). Kata beberapa orang yang sering bergunjing setiap terjadi kecelakaan di lokasi yang sama di jalan lintas ini, di daerah ini ada jin penunggu pohon cempedak. Pohon tersebut memang sudah tua, dan beberapa rumpun tanaman salak, dua batang pohon durian, sebatang pohon alpukat, dan beberapa pohon kelapa yang tumbuh pada sebidang tanah persis di sebelah gedung tempat aku tinggal menambah seram daerah ini. Beberapa pengemudi motor yang pernah mengalami kecelakaan di daerah ini, sebelum terjadi kecelakaan mereka seperti melihat sesosok makhluk hitam dan besar di bawah pohon cempedak yang kanopinya memang sampai menutupi seperempat badan jalan. Aku tertawa dalam hati, dan mungkin kalian juga akan tertawa, kalau anda tahu dan melihat sendiri cara orang-orang berkendaraan.
Mereka semua rata-rata tidak memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM), setahu saya seseorang baru boleh mengemudikan kendaraan jika memiliki SIM dan telah berusia di atas 17 tahun, toh... di sini anak-anak SMP pun banyak yang mengendarai motor. Mereka, terutama pengemudi kendaraan roda dua, kalau mau masuk ke lorong sebelah kanan atau kiri jalan, tanpa aba-aba langsung nyelonong, meski di belakang dan hadapannya ada kendaraan yang melaju lurus dan kalau tidak hati-hati akan menabrak si pengemudi yang nyelonong tadi. Di sini juga banyak dijumpai pengemudi yang menggunakan jalur berlawanan (melaju di sebelah kanan jalan), sehingga kendaraan dari arah yang benar terpaksa memakan jalur di sebelahnya.
Kembali ke isu jin penunggu pohon cempedak, mereka yang mengalami kecelakaan mencari kambing hitam untuk menutupi kesalahan mereka, bahwa mereka tidak bisa mengemudi, mereka tidak hati-hati, dan mereka tidak mematuhi aturan lalu lintas. Semoga anda, jika sempat ke sini, terhindar dari musibah karena kelalaian pengemudi di sini. Trotoar pun di sini banyak yang sumbing, karena di seruduk motor dan mobil. Hati-hati memarkir kendaraan, kalau bisa masuk ke lahan khusus parkir atau ke halaman gedung atau rumah, karena tidak ada jaminan selamat dari serudukan mobil dan motor. Kota tempat saya tinggal ini bernama LUBUKLINGGAU.


Komentar terakhir
Anggot mapala