Salah Dosis

Seorang bule dari Inggris yang bekerja di Kedutaan Besar Inggris di Jakarta pergi ke apotik untuk menebus obat yang diberikan oleh dokter yang juga bekerja di kedutaan tersebut. Obat tersebut penting bagi dirinya untuk mengurangi alergi yang dideritanya. Dosis yang diberikan dokternya adalah 1 ounce (ons) untuk setiap kali minum setiap hari berupa obat serbuk. Dokter memberinya untuk 3 hari dan bila dalam 3 hari belum menunjukkan hasil, maka ia akan diberikan obat lain.  Oleh sebuah apotik yang buka 24 jam di Jakarta Pusat, obat tersebut telah dipisahkan menjadi 3 kantong dengan berat masing-masing 1 ons. Baru sekali meminum obat tersebut, si bule dilarikan ke rumah sakit karena keracunan obat. Setelah diselidiki ternyata apoteker salah memberikan dosis obat pada setiap kantong. Pada 2 kantong yang tersisa setelah ditimbang ternyata beratnya masing-masing kantong adalah 100 gram. Akibatnya apoteker tersebut diharuskan membayar denda sebesar seratus juta rupiah, karena membahayakan nyawa seseorang. (Sebuah Ilustrasi).

Mengapa si apoteker disalahkan, bukankah ia memberikan dosis yang benar untuk setiap bungkus berdasarkan resep dokter? MENGAPA?

Semua orang mempertanyakan hal yang sama, dan jawabannya sangat sederhana. Si Apoteker tidak tahu, bahkan mungkin kita semua juga tidak tahu dan tidak menyadari, bahwa ternyata dasar konversi berat dari ounce (ons) ke gram yang kita tahu selama ini salah. Coba saya tanyakan kepada anda, ada berapa gram dalam 1 ons? Mudah-mudahan tidak semua yang membaca tulisan ini menjawab 100 gram. Karena berdasarkan standar internasional, 1 ounce (ons) sama dengan 28,3495 gram. Bagi anda yang punya ponsel dengan fasilitas converter (konversi) dapat membuktikan sendiri ternyata 1 ons bukan 100 gram. Dari ilustrasi di atas, wajar saja kalau si apoteker disalahkan, karena dosis yang diberikannya hampir empat kali dosis seharusnya.

Kalau sudah begini, siapakah yang harus disalahkan? Menteri Dikjar-kah? Guru-kah? Atau para murid? WALLAHUALAM… :-)abz.