Vegetarian
Posted on December 5th, 2008 in Sajak | No Comments »
“Nasi ayamnya berapa, Bu?” Tanya Ken kepada pelayan warung nasi di simpang lampu merah Bukit Besar.
“Tiga ribu
lima ratus. Mau makan di sini atau semuanya dibungkus?” jawab pelayan yang ditanya.
“Iya. Dibungkus.” Jawabku.
“Berapa bungkus?” Tanya pelayan itu juga.
“Lima bungkus.”
“Tapi tunggu sebentar, yah. Nasinya belum cukup. Sebentar lagi juga matang.”
“Kalau nasi pergedel, berapa?” Tanya Ken lagi.
“Dua ribu.”
“Nasi terong?”
“Survey harga, yah?” Tanya Syam kepada Ken yang mulai kumat isengnya, “Atau mau buka warung nasi?”
“Seribu dua ratus.” Jawab pelayan itu lagi.
“Kalau begitu nasi tahu, saja.” Kata Ken, dan kemudian ia berbisik kepada Syam, “Aku titip tempe di bungkusan kau, yah?”
***
Saat itu ada enam orang yang berkumpul di ruang sempit dan penuh asap rokok. Kamar, kalau dapat disebut demikian, yang berukuran sembilan meter persegi tersebut disekat dengan triplek pembatas. Sebagian digunakan sebagai gudang tempat menyimpan kasur dan bagian depan ditata supaya kelihatan apik dan luas. Buku-buku yang biasanya disusun di rak, terpaksa diikat dengan tali plastik dan sebagian dimasukkan ke dalam kardus-kardus dan ditempatkan di atas lemari tempat pakaian dan perlengkapan adventure.
Sebenarnya yang tinggal di tempat (bedeng) tersebut, hanya dua orang. Pada saat seperti ini saja cukup ramai. Kelakar, buat program, atau cuma sekedar kumpul-kumpul.
“Aku heran, sejak Ken pulang dari Bandung, ia berubah. Sekarang ia menjadi pemakan …, apa itu namanya? Seperti kelinci saja.”
“Bukan…” Sela Syam kepada Agus, “Bukan seperti kelinci, tapi seperti kindaro[1] tolol yang malu-malu ketika interest pada sesuatu.”
“Mungkin, ia sekarang sedang ngelmu.” Kata Heynce menanggapi ucapan Syam dan Agus.
“Menurutku, karena ia sudah kehilangan empat Syech-nya yang cuma sebelas itu.” Kata Aris berkomentar. “Jadi ia harus membujuk syech-nya yang hilang itu dengan tidak memakan semua yang berbau hewani supaya balik lagi.”
“Yang jelas, ia sekarang buntu. Buktinya kemarin dan setiap makan bersama kami ia selalu cuma pesan nasi tempe walau porsinya berlebihan untuk orang yang sedang diet.” Kata Syam.
“Tapi bisa jadi, ia sekarang ingin moksa.” Sambung Aris.
“Atau..” Kataku, “…ia sedang belajar memakan serat-seratan tanaman, kemudian daging-dagingan supaya tidak kaget, baru kemudian menjadi kanibal. Tapi itu mungkin saja lho, ia sudah memperkirakan bahwa negara tercinta kita ini tidak mampu lagi menghasilkan tanaman dan ternak, sehingga harus siap-siap menjadi pemangsa yang lemah.”
“Jangan begitu, ah… Aku jadi merinding.” Kata Atuk. Di dusunku masih banyak yang dapat dilakukan untuk menghasilkan makanan.”
“Tapi, bukankah semuanya sudah dimodifikasi, tidak alami lagi, sudah banyak zat tambahan, terutama bahan kimia.” Sambungku.
“Sudahlah, kita kan sekarang sedang bahas masalah Ken yang berubah. Jangan melencenglah.” Kata Heynce.
Memang, banyak kemungkinan Ken menjadi vegetarian. Walaupun itu hal yang lumrah, tapi kami merasa ada hal yang aneh, pasti ada tujuan tertentu. Aku tahu selama ini ia sudah aneh, dan setiap ia muncul ada-ada saja kelakuannya yang menurut kami tidak masuk akal. Alasan-alasan ia menjadi vegetarian, aku heran, selalu terlintas dibenakku, dan menjadi bahan perdebatan yang menarik di antara kami. Mungkin ia memang sedang diet, tapi bukankah badannya yang kerempeng tersebut lebih cocok kalau alasannya mau merasakan hidup prihatin. Ia alergi, tapi tidak, ia cuma alergi pada kompor, katanya trauma. Lebih masuk akal kalau ia sekarang mengikuti aliran tertentu. Benar, setiap beberapa hari dalam seminggu ia tidak berada di rumahnya, padahal kami tahu ia orang yeng betah di rumah, atau kalau tidak ia akan lebih senang jika berkumpul dengan kami.
Sepuluh tahun lebih aku mengenalnya, tapi aku merasa tidak benar-benar mengenalnya. Entahlah. Menurut hasil diskusi yang dalam beberapa hari ini terus kami lakukan untuk membahasnya, kami berkesimpulan bahwa yang tahu alasan mengapa Ken sekarang menjadi seorang vegetarian adalah Qijo di Bandung, karena kami tahu beberapa minggu yang lalu Ken ke Bandung dan diajak oleh Qijo dan teman-temannya ke suatu tempat yang menurut orang keramat. Tugas kami sekarang adalah menghubungi Qijo untuk meng-klarifikasi kelakuan Ken sekarang.
***
“Halo, ada Ical.” Kata Atuk menanyakan nama kecil Qijo di telepon.
“Yah, saya sendiri.”
Dan akhirnya kami pun tahu penyebab Ken menjadi vegetarian. Ini semua provokasi dari Qijo. Tetapi salah Ken sendiri yang percaya dengan kata-kata Qijo.
***
Meski akhirnya Ken boleh bangga, dengan jerih payah dan keyakinannya ia diterima menjadi Sinder, asisten lapangan, di sebuah perusahaan perkebunan milik pemerintah.
***
[1] Pelesetan monyet yang dibuat Qjo dalam bahasa Jepang.
