Kanker Otak
Posted on December 5th, 2008 in Sajak |
Sementara mataku tak dapat dibuka, teraso berat nian, dari tenggorokanku keluar suara gerungan, mirip suara hewan yang disembelih, atau seperti marahnya seekor harimau, tapi bukan auman; beruang mungkin. Mulutku cuma mampu sebelah terbuka, pada bagian kanan. Gigiku terkatup rapat. Dalam benakku bermunculan dugaan, “apakah aku sekarang sedang kemasukan roh binatang buas?” Tapi itu kutepis, aku yang realistis tak mungkin berpikiran seperti ini. Aku tak percaya takhyul. “Atau mungkinkah aku terinfeksi virus atau bakteri? Mungkinkah…?” Dan aku tak sadarkan diri.
Aku kembali tersadar dan kaget oleh gerunganku sendiri, lebih keras. Mataku tetap tak dapat kubuka. Seluruh bagian otak kiri kufungsikan untuk berpikir, “Ini adalah mimpi.”
“Tidak! Ini bukan mimpi” Bantah otak kiriku. “Tapi, bukankah alam bawah sadar tidak pernah beristirahat selama 8.766 jam setahun, dan pada saat tidur aktivitasnya lebih banyak, kadang-kadang ke tempat yang tidak kita inginkan.”
Aku berhenti berpikir, yang kuperlukan sekarang adalah bagaimana aku dapat keluar dari kemelut ini. Bila ini mimpi aku ingin segera mengakhirinya, sungguh menakutkan bila ini adalah benar. Aku butuh pertolongan. “Cogito ergo sum cogitan”, keluhku mengutip teori Descartes1.
“Dina!”, teriakku memanggil adikku, tapi suaraku yang keluar hanya berupa gerungan, atau telingaku kah yang tak beres? Telingaku baru seumur hidungku. Aku tersadar, hidungku pun tak berfungsi, tidak kucium bau comberan, limbah industri pempek panggang tetanggaku yang selama empat bulan terakhir selalu tercium, meski itu tak membuatku sesak napas.
“Emak!” Lolongku memanggil ibuku. Tetap tak ada yang merespon. Kusadari pula bahwa mataku hanya melihat kelam. Ingatanku tak dapat merekam gambar keseharian yang biasa kulihat, juga tangan kurusku.
Aku marah, emosi. Marah pada diriku sendiri yang tak dapat mengendalikan hormon adrenalin dalam tubuhku. Seluruh otot di tubuhku menegang, aku benar-benar satu sekarang. Satu dalam nafsu amarah yang menguasai seluruh jalan pikiranku. Seharusnya aku menyendiri sekarang, aku takut ini tak terkendali dan pada akhirnya merugikanku sendiri. Semua tampak hitam kelam bergulung-gulung menyatu dengan jasad dan rohku.
Aku mencoba bangun, tenagaku tak dapat kukuasai. Semuanya bertambah kacau, meski aku berusaha keras untuk menguasai jalan pikiranku dan menuntunku perlahan kepada realita, tetapi hanya semu yang kudapat.
Aku tetap berusaha, entah berapa lama aku dalam keadaan bingung, marah, dan putus asa. Secara perlahan aku dapat mengendalikan syaraf di otakku dan menurunkan hormon adrenalin yang menguasai tubuhku. Untuk bangun aku belum bisa dan aku hanya bergulingan di atas tempat tidur yang menjadi basah. Aku terjatuh dari dipan.
Tubuhku bertambah lemas dan aku hanya mampu bergeser, beringsut sedikit demi sedikit menuju pintu kamar yang bertambah jauh untuk kugapai. Kemauanku saja yang membuat aku dapat keluar dari kamar. Sementara, suara gerunganku makin kerap keluar, bahkan hampir tak berselang.
Aku berhasil merangkak dan bergerak lebih cepat untuk mencari bantuan. Kemana penghuni rumah ini yang biasanya tak pernah sepi? Bahkan pintu kamar adikku yang bungsu tertutup, biasanya selalu terbuka. “Hah…!? Sejak kapan kamarnya punya pintu? Dan mengapa dindingnya dicat hitam.” Semuanya masih kelam.
Keringat mengucur deras, aku panik. “Permainan apa ini? Skenario apa yang sedang kujalani?” Aku merasa semakin terasing, asing dengan keadaan sekitarku. Kembali hormon adrenalin menguasaiku, dan aku berhasil berdiri, berjalan tertatih-tatih bertambah cepat, sampai dapat berlari di dalam ruangan yang terasa begitu luas ini. Aku berlari menuju pintu keluar yang terlihat begitu dekat, tapi tak dapat kucapai. Aku terus berlari, meski tubuhku tak sanggup lagi ikut serta.
Pintu itu akhirnya terbuka. Angin dingin menusuk ke tulang menerjangku, juga awan gelap tak kuundang datang menyapuku. Dan aku terlempar ke satu tempat yang indah, sangat indah.
Di tempat ini, semilir angin bagaikan gesekan biola, gemercik air bagaikan alunan melodi musik klasik dari sang maestro, dan bersama suara-suara alam membuat lagu yang mengiringi syair burung-burung dengan pencahayaan dari sang surya. Dan inilah konser yang maha sempurna di tempat yang menebarkan berbagai aroma bunga. Aku dapat merasakan kehadiran sahabat-sahabatku dan orang-orang yang kukasihi.
Sampai aku tersadar benar-benar sadar, napasku memburu. Seluruh otot tubuhku terasa sakit dan pegal-pegal, tenggorakanku terasa gatal dan aku mulai batuk-batuk.
***
Parameswara, 18 Desember 2002 (09.16)
Sebuah sajak buat kawan-kawan di dunia cyber.
1 Cogito Ergo Sum Cogitan: Aku adalah pengada yang berpikir.
