Sejauh ini aku merasa normal, meski katamu ukuranku mikron.  Mungkin kau benar dan kau yang punya kuasa berpikir, Meski tak dapat diingkari kau berasal dariku dan akan kembali menjadi aku, demikian takdirnya.

        Aku, sampai saat ini tidak pernah sendiri.  Tetapi tentu saja jika sengaja kau pisahkan, aku menjadi tunggal dan itu bukanlah aku, karena aku (jamak) adalah debu.  Aku selalu mempunyai kawan.  Kawanku tak terhitung jenisnya, apalagi jumlahnya, lebih bijaksana jika kusebut saja kawan-kawanku dengan mereka.  Mereka, setiap jenisnya merupakan struktur yang jarang berdiri sendiri.  Aku bersama mereka membuat koloni yang besar dan membuat manfaat besar bagimu, tapi hati-hati, bila kau salah bertindak aku dan kawan-kawanku mendatangkan bencana.

        Aku tidak pernah kesepian, meski di sini sunyi, mereka selalu bercerita padaku tentang daerah-daerah yang tidak pernah kulihat.  Kata mereka aku ada dimana-mana.  Aku percaya, kebohongan tidak pernah ada di antara kami.  Aku sudah bersama mereka sejak aku belum mempunyai nama, bahkan jauh sebelum kau ada.  Mereka melihat aku, sulit kubayangkan, di dasar palung-palung yang gelap, di puncak gunung-gunung yang tinggi, menjadi bagian dari awan-awan yang dari sini kelihatan putih dan menawan, di bawah lapisan salju, dan di padang-padang pasir yang panas. 

Aku senang mendengar mereka bercerita, tentang pengalaman mereka yang menakjubkan.  “Sering …”  kata mereka  “… kita mengaramkan kapal dengan menjebaknya dalam badai.”  Selalu, setiap mereka bercerita, aku ingin sekali berada di sana, membuat badai yang besar, meluapkan sungai, dan membuat longsor.  Meski aku tahu bahwa aku ada di sana, tapi selalu ada perbedaannya.

Sampai pada hari ini, harapanku akan menjadi kenyataan, aku sengaja mengikuti langkah sepatu boot seorang pemburu dan berpegangan erat pada alasnya takut kalau-kalau impianku akan terputus.  Aku terlena dan tertidur ketika sedang menikmati irama langkah sang sepatu dan baru terjaga ketika mendengar sapaan mereka yang segera kukenali, kawan-kawanku.

“Selamat terjaga, kawan.  Dan inilah realita.”  Mereka tersenyum ramah.

Aku membalas senyum mereka, “Realita? Apakah aku selama ini bermimpi? Dan dimanakah aku sekarang?”

“Tidak, engkau tak pernah bermimpi. Ini akan menjawab pertanyaanmu selama ini. Jangan khawatir, engkau berada dalam perlindungan kami.  Engkau hendak kemana?”  Mereka berputar-putar di sekelilingku.

“Aku mengikuti impianku yang ingin berada dalam sebuah petualangan yang menakjubkan.  Sebuah badai misalnya.”

“Ha… ha… ha….  Dengarlah gemuruh ini dan rasakan, engkau sekarang ikut dalam petualangan ini, bersama banjir bandang, dan telah menjadi agenda kita setiap tahun.”

Wow!  Seindah inikah?”

“Ini belum seberapa, rencananya untuk yang akan datang akan kita buat yang lebih dahsyat.”

“Aduh!”

“Ada apa? Kau tidak suka? Tidak senang…?”

“Bukan begitu…, aku pusing.  Antarkan aku ke darat.”

“Engkau hanya belum terbiasa.  Tidurlah!  Kami akan menjagamu dan mengantarkanmu ke darat.”

Aku terjaga di tempat yang kering, benar-benar kering dan membuat aku menjadi ringan.  Aku menjadi mudah bergerak dan ini tidak kusukai.  Meski di sini aku menjumpai teman-teman lama, tapi selalu saja aku merasa asing.  Dan tiba-tiba aku telah membubung tinggi ke langit, menembus mega, melintasi samudera, aku semakin terasing.  Belum lagi angin yang mengajakku berputar-putar menghalau nelayan, membantu laut menerjang karang yang angkuh menantang.  Inilah topan, puting beliung, badai dan entah apa lagi kau namakan. Aku menjadi tumpuan kawan-kawan kecilku yang membuat lidah api di antara gemuruh angin.  Aku mual dan berharap ini segera berakhir.

Petualangan seperti ini tidak kusuka, aku salah selama ini. Seakan-akan semua menghukumku, aku terjebak dalam kebimbangan.  Terlontar dari satu peristiwa kepada peristiwa lain, dan sekarang aku kembali membubung tinggi ke angkasa di selimuti awan gelap.  Tidak, inilah diriku saat ini, menjadi hitam bersama kawan-kawanku yang sebelumnya merah membara.  Aku letih, benar-benar letih.