“Setelah mempertimbangkan usul dari kawan-kawan, bahwa acara pertemuan ini harus segera kita dimulai de…”

            “Tunggu dulu,” kata-kata Achingae tersebut dipotong oleh Aris. “Siapa yang menunjuk anda untuk memimpin pertemuan ini?”

            “Iya, benar.” Sambung Atuk, “kita harus sepakati dahulu”

            “Yang mana harus kita sepakati terlebih dahulu,” kata Halim. “Apakah siapa yang harus memimpin pertemuan ini yang pertama kita sepakati, ataukah siapa yang akan memimpin musyawarah untuk mencapai kesepakatan siapa yang memimpin pertemuan ini?”

            “Tapi …?” Iip bingung hendak melanjutkan kata-katanya.

            “Tapi, mengapa?” Tanya Qijo yang juga bingung dan ingin mendengarkan kelanjutan kata-kata Iip.

            Semua mata memandang kepada Iip. Pertemuan ini dihadiri oleh 13 orang, 5 orang diantaranya adalah wanita. Ke-13 orang ini bertemu ingin membicarakan sebuah rencana kegiatan dan mereka mencoba menerapkan persamaan hak setiap orang, sebelum rencana yang akan dibicarakan dimatangkan.

            “Begini,” lanjut Iip. “Siapa yang akan memimpin acara untuk membuat keputusan orang yang akan memimpin musyawarah untuk mencapai kesepakatan siapa yang memimpin pertemuan ini?”

            “Iya, yah.” Gumam beberapa orang.

            Tia yang biasa menjadi sekretaris baik dalam satu kegiatan maupun dalam organisasi bertanya karena penasaran, “jadi, usul siapa yang harus kita terima?”

            Semua menjadi bingung, semua usul dan pertanyaan tersebut mendesak untuk dijawab. Sal yang kontraversi nyeletuk, “bagaimana kalau semua usul dan pertanyaan dicatat.”

            “Jangan menambah masalah, dong.” Kata Ija. “Siapa yang akan mencatat? Lha wong yang akan memimpin pertemuan ini tidak ada.”

            Memang usul Sal dapat diterima, kalau permasalahannya tidak serumit sekarang dan memang dibuat rumit. Semua menjadi bingung. Pembicaraan pokok yang akan dibicarakan belum sedikitpun disinggung. Mereka sama-sama berpikir dan jalan pikiran mereka sama, tapi pandangan mereka berbeda. Cukup sederhana, tapi pelik, memang.

            “Boleh, saya bicara?” tanya Elis yang sejak awal diam tidak mengeluarkan pendapat.

            “Tunggu.” Kata Atuk, sebelum yang lain memperbolehkan Lis bicara. “Saya juga ingin bicara dan kupikir tidak seorangpun diantara kita yang dapat memutuskan apakah Elis boleh bicara atau tidak. Saya pikir kita harus segera memutuskan siapa yang akan memimpin pertemuan hari ini.”

            “Maaf.” Potong Ofie, “Sebelumnya kita harus memutuskan dan menunjuk orang yang akan memimpin musyawarah untuk menentukan pemimpin pertemuan hari ini.”

            “Dan …,” sambung Ichi dan Ifan berbarengan yang diteruskan oleh Ichi sendiri, “Sebelumnya kita harus menentukan pimpinan yang akan memimpin musyawarah dalam penunjukan pimpinan pertemuan hari ini.”

            Ke-13 orang yang menghadiri pertemuan tersebut berusaha berpikir keras, dahi mereka berkerut, alis mereka hampir bertaut. Mereka berdiam diri beberapa saat sampai akhirnya Ifan memecah kesunyian dengan usul cemerlangnya. “Bagaimana kalau kita makan bakso dulu?” Ketika melihat tukang bakso lewat, “dan saya yang akan mentraktir anda semua.”

            “Sepakat.” Jawab ke-12 orang lainnya serentak.

            Sekarang tukang bakso yang repot melayani ke-13 orang tersebut dengan pesanan berbeda-beda. Ada yang tidak pakai mie, tidak pakai penyedap rasa, atau sambal. Yang lebih gila lagi, ada yang memesan tanpa sendok, memangnya mau makan dengan mengobok-obok isi mangkok? Hihh, sereem..!

            “Bagaimana kalau kita minta Mamang tukang bakso untuk memimpin musyawarah pertama untuk menentukan siapa yang akan memimpin musyawarah dalam penunjukan pimpinan pertemuan hari ini?” Usul gila Ijah, ketika mereka semua sudah selesai makan.

            Semua memikirkan usul Ijah dan mereka mengangguk setuju. Untung saja Mamang tukang bakso setuju, ketika diberi kehormatan untuk memimpin ke-13 orang tersebut walaupun untuk satu keputusan. Kalau tidak … sulit dibayangkan.

            Dan pertemuan pada hari tersebut tidak sia-sia dalam mencapai kesepakatan siapa yang memimpin pertemuan pada hari tersebut.