Hitam Putih
Hitam Putih
Cerita Pendek AbazSelamat pagi, siang, dan malam....
Tahun lalu aku pernah memberimu printout bunga mawar, dan tahun ini yang aku printout bukan lagi bunga mawar,
tapi daun-daun hitam putih (di layar komputer yang kusewa berwarna-warni), Maaf, harga tinta warna selangit dan kantongku hanya bisa meratap kesepian.
Tahun lalu aku memang pernah berjanji akan memberimu yang aslinya, tapi sampai sekarang kebun mawarku belum lagi berbunga, jangankan berbunga lahan untuk menanam bunga-bunga mawar tersebut telah ditanami pabrik-pabrik dan bangunan perkantoran dan tak ada lagi tempat untuk estetika, sedangkan kebun-kebun yang ada bunga mawarnya, untuk mendapatkannya tidak gratis dan dompetku selalu tertawa lebar ketika mengetahuinya.
Untuk mencuri aku tidak punya keberanian, aku takut ....
Dan sekarang aku hanya bisa mengucapkan rasa syukur, bahwa kita masih hidup, masih bisa melihat ‘Wakil Rakyat’ yang membuat kita semua bingung,
walaupun sakuku tetap saja merasa kesepian.
Aku hanya bisa ‘berucap’ Selamat Ulang Tahun, semoga tahun depan aku masih bisa memberikan ucapan yang sama.
Salam,
;-)
Sekali lagi kupandangi kartu ucapan tersebut, tidak bosan kupandangi gambar hitam putih yang sungguh tidak menarik tersebut, tapi aku tahu bahwa dibalik itu semua terdapat ketulusan hati si pengirim.
Kartu yang sudah agak kusam dimakan hari tersebut terlipat rapi, seperti juga hatiku. Teringat tepat setahun sebelum kartu ini, aku mendapat kartu ucapan dari orang yang sama. Kartu yang sepertinya hanya main-main dan tak punya arti, tapi bagiku sangat berarti dengan gambar bunga mawar yang hampir separuh memenuhi kertas A4 putih delapan puluh gram dan disertai ucapan:
Masih hidup juga, yah?
Sekarang aku baru bisa kirim printout-nya, semoga tahun depan aku bisa kirim yang asli.
Selamat Ulang Tahun...!
Salam,
:-)
Dan setelah sekarang tahun keempat, aku masih saja baru menerima dua buah kartu. Aku sudah rindu dengan ucapan-ucapan konyolnya meski hanya melalui selembar kertas. Aku kehilangan seorang penggemar dan nyata sekali bahwa akulah yang mengaguminya. Padahal mungkin saja ia sekarang sedang merancang kartu-kartu baru untuk orang yang baru.
Sehari setelah hari ulang tahunku keempat setelah kartu pertama dan kedua, aku melihat paket tipis berukuran 3,5 inchi, kurang lebih begitulah, di atas meja belajarku terbungkus dengan kertas daur ulang berwarna kuning kunyit dan tertulis namaku beserta alamat lengkap di sehelai kertas coklat muda, juga dari kertas daur ulang, yang menempel di bagian atas. Kuambil paket tersebut dan kubalik. Tepat seperti dugaanku, nama si pengirim tidak ada dan alamat yang tertera adalah alamat kantor pos tempat asal paket tersebut.
Sekali lagi dugaanku tidak meleset, paket tersebut adalah sebuah disket, wah.. transparan, sehingga aku keliru ketika pertama kali memasukkannya ke drive komputer sewaan yang beberapa bulan ini akrab menemaniku. ‘Penggemar’ku yang biasanya mengirimiku selembar kertas tanpa amplop, sekarang mengirimiku sebuah disket yang dapat memuat beribu-ribu kartu ucapan.
Pukul xx:xx,
Selamat ... pagi, siang, sore dan malam ... (cocokkan sendiri dengan penunjuk waktu di sudut kanan bawah layar monitor di hadapanmu, itu pun jika kau menggunakan program yang sama denganku)
Empat tahun aku menunggu kesempatan ini
dan aku masih tak mampu mengucapkan secara langsung,
Aku memang pengecut, kalaupun berani itu bukanlah diriku
Aku hanya dapat mengagumimu, mengamatimu, dan mencintaimu dari kejauhan
Aku selalu gagal mematangkan rencanaku dan membuatnya menjadi kenyataan
Menyangkut dirimu, aku takut berterus terang tentang perasaanku
Aku yang selalu optimis dengan segala resiko atas tindakanku, di hadapanmu adalah pengecut dengan selembar kertas yang kugoresi tinta pena atau disket yang berisi kiloan byte kata-kata yang membuatku menjadi penyair tongop menjelepok di sudut kamar menangisi kekalahan ini
Tentang dirimu, aku tak mampu dan tak mau lagi berharap
Meski tak kupungkiri, kehadiranmu dalam mimpi-mimpiku yang membuatku mampu berterus terang pada monitor di depanku dan yang sekarang berada di depanmu
Aku tahu bahwa aku selalu terlambat, dan sekali lagi kalau tak pernah “terlambat” itu bukanlah diriku, aku masih ingin mengucapkan “SELAMAT ULANG TAHUN”
Salam,
:-)
Berkali-kali kubaca file “Selamat ulang tahun” tersebut, sampai air mataku kering. Aku tak berani mengalihkan perhatianku dari monitor di hadapanku. Tak kuhiraukan penyewa di sekitarku juga tak berani kususut air mata yang telah mengering di pipiku yang sebagian membasahi rok hitamku. - Seandainya sekarang kau ada di hadapanku, buanglah keraguanmu tersebut. Tak ada yang mesti dijelaskan. Jangan lagi kirimi aku kartu-kartumu, aku tak butuh. Kirimi aku seekor merpati, agar aku dapat mengatakan, “Apakah aku salah mengartikan kartu-kartumu?” -
***
Selesai di PalembangPada 23 Sept 02, pukul 23.39 Wib

