Senin, Maret 20, 2006

Tigaperempat Hari di Musim Hujan

Jalan aspal yang licin setelah diguyur hujan tidak membuat kendaraan yang berlalu lalang mengurangi laju kendaraannya di jalan lintas yang melewati kota tempat aku tinggal. Kerap aku berpikir, apa yang mereka kejar, baik mobil atau pun motor. Toh, hujan sudah berhenti. Mereka pasti punya alasan, YA pasti.

Belum lama aku mengamati kesibukan di jalan dari lantai dua tempat aku tinggal, dari arah sebelah kanan meluncur sebuah sepeda motor tanpa pengemudi. Aku terkejut, koq bisa?... Motor tersebut terus bergerak di atas kedua rodanya dan semakin miring akhirnya meluncur di atas body kirinya menimbulkan suara bising dan percikan api dan terlempar sampai 50 meter.

Dimana pengemudinya? Aku celingukan menoleh ke kanan-kiri. Sepertinya si pengemudi adalah orang yang berusaha berdiri dan bersama seorang yang diboncengnya tertatih ke pinggiran jalan. Mereka mengenakan seragam putih - abu-abu. Hmm, anak SMA.

Motor tersebut menyerempet bagian belakang kanan sebuah mobil taft yang juga meluncur dengan cepat. Mobil tersebut terus meluncur dan melambat seiring motor yang mendesing di sebelah kanannya. Pengemudi mobil memarkir mobilnya di tepi jalan dan turun ke jalan mengangkat motor yang mesinnya telah mati dan membawa lari motor tersebut ke arah datangnya motor dan membelok ke jalan kecil persis di depan kantor tempat aku tinggal. Si pengemudi mobil berusaha untuk menghindari keramaian akibat kecelakaan tersebut, dan juga menghindari kemungkinan adanya pihak kepolisian yang mencium wanginya uang akibat kelalaian pengguna jalan. Pemikiran yang cepat dan cerdas, dengan tindakan tersebut si pengemudi mobil hanya menghadapi satu pihak, sehingga kerugian dapat ditekan.

Sejak delapan bulan yang lalu, aku menapakkan kaki di sini, sudah sering aku menyaksikan kecelakaan lalu lintas. Dalam hitunganku, sudah enam kali kusaksikan secara langsung (live). Kata beberapa orang yang sering bergunjing setiap terjadi kecelakaan di lokasi yang sama di jalan lintas ini, di daerah ini ada jin penunggu pohon cempedak. Pohon tersebut memang sudah tua, dan beberapa rumpun tanaman salak, dua batang pohon durian, sebatang pohon alpukat, dan beberapa pohon kelapa yang tumbuh pada sebidang tanah persis di sebelah gedung tempat aku tinggal menambah seram daerah ini. Beberapa pengemudi motor yang pernah mengalami kecelakaan di daerah ini, sebelum terjadi kecelakaan mereka seperti melihat sesosok makhluk hitam dan besar di bawah pohon cempedak yang kanopinya memang sampai menutupi seperempat badan jalan. Aku tertawa dalam hati, dan mungkin kalian juga akan tertawa, kalau anda tahu dan melihat sendiri cara orang-orang berkendaraan.

Mereka semua rata-rata tidak memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM), setahu saya seseorang baru boleh mengemudikan kendaraan jika memiliki SIM dan telah berusia di atas 17 tahun, toh... di sini anak-anak SMP pun banyak yang mengendarai motor. Mereka, terutama pengemudi kendaraan roda dua, kalau mau masuk ke lorong sebelah kanan atau kiri jalan, tanpa aba-aba langsung nyelonong, meski di belakang dan hadapannya ada kendaraan yang melaju lurus dan kalau tidak hati-hati akan menabrak si pengemudi yang nyelonong tadi. Di sini juga banyak dijumpai pengemudi yang menggunakan jalur berlawanan (melaju di sebelah kanan jalan), sehingga kendaraan dari arah yang benar terpaksa memakan jalur di sebelahnya.

Kembali ke isu jin penunggu pohon cempedak, mereka yang mengalami kecelakaan mencari kambing hitam untuk menutupi kesalahan mereka, bahwa mereka tidak bisa mengemudi, mereka tidak hati-hati, dan mereka tidak mematuhi aturan lalu lintas. Semoga anda, jika sempat ke sini, terhindar dari musibah karena kelalaian pengemudi di sini. Trotoar pun di sini banyak yang sumbing, karena di seruduk motor dan mobil. Hati-hati memarkir kendaraan, kalau bisa masuk ke lahan khusus parkir atau ke halaman gedung atau rumah, karena tidak ada jaminan selamat dari serudukan mobil dan motor. Kota tempat saya tinggal ini bernama LUBUKLINGGAU.

Posted by abz at 16:58:50 | Permanent Link | Comments (0) |

Kamis, Februari 23, 2006

Hitam Putih

Hitam Putih

Cerita Pendek Abaz

Selamat pagi, siang, dan malam....
Tahun lalu aku pernah memberimu printout bunga mawar, dan tahun ini yang aku printout bukan lagi bunga mawar,
tapi daun-daun hitam putih (di layar komputer yang kusewa berwarna-warni), Maaf, harga tinta warna selangit dan kantongku hanya bisa meratap kesepian.
Tahun lalu aku memang pernah berjanji akan memberimu yang aslinya, tapi sampai sekarang kebun mawarku belum lagi berbunga, jangankan berbunga lahan untuk menanam bunga-bunga mawar tersebut telah ditanami pabrik-pabrik dan bangunan perkantoran dan tak ada lagi tempat untuk estetika, sedangkan kebun-kebun yang ada bunga mawarnya, untuk mendapatkannya tidak gratis dan dompetku selalu tertawa lebar ketika mengetahuinya.
Untuk mencuri aku tidak punya keberanian, aku takut ....
Dan sekarang aku hanya bisa mengucapkan rasa syukur, bahwa kita masih hidup, masih bisa melihat ‘Wakil Rakyat’ yang membuat kita semua bingung,
walaupun sakuku tetap saja merasa kesepian.
Aku hanya bisa ‘berucap’ Selamat Ulang Tahun, semoga tahun depan aku masih bisa memberikan ucapan yang sama.
Salam,
;-)

Sekali lagi kupandangi kartu ucapan tersebut, tidak bosan kupandangi gambar hitam putih yang sungguh tidak menarik tersebut, tapi aku tahu bahwa dibalik itu semua terdapat ketulusan hati si pengirim.
Kartu yang sudah agak kusam dimakan hari tersebut terlipat rapi, seperti juga hatiku. Teringat tepat setahun sebelum kartu ini, aku mendapat kartu ucapan dari orang yang sama. Kartu yang sepertinya hanya main-main dan tak punya arti, tapi bagiku sangat berarti dengan gambar bunga mawar yang hampir separuh memenuhi kertas A4 putih delapan puluh gram dan disertai ucapan:

Masih hidup juga, yah?
Sekarang aku baru bisa kirim printout-nya, semoga tahun depan aku bisa kirim yang asli.
Selamat Ulang Tahun...!
Salam,
:-)

Dan setelah sekarang tahun keempat, aku masih saja baru menerima dua buah kartu. Aku sudah rindu dengan ucapan-ucapan konyolnya meski hanya melalui selembar kertas. Aku kehilangan seorang penggemar dan nyata sekali bahwa akulah yang mengaguminya. Padahal mungkin saja ia sekarang sedang merancang kartu-kartu baru untuk orang yang baru.
Sehari setelah hari ulang tahunku keempat setelah kartu pertama dan kedua, aku melihat paket tipis berukuran 3,5 inchi, kurang lebih begitulah, di atas meja belajarku terbungkus dengan kertas daur ulang berwarna kuning kunyit dan tertulis namaku beserta alamat lengkap di sehelai kertas coklat muda, juga dari kertas daur ulang, yang menempel di bagian atas. Kuambil paket tersebut dan kubalik. Tepat seperti dugaanku, nama si pengirim tidak ada dan alamat yang tertera adalah alamat kantor pos tempat asal paket tersebut.

Sekali lagi dugaanku tidak meleset, paket tersebut adalah sebuah disket, wah.. transparan, sehingga aku keliru ketika pertama kali memasukkannya ke drive komputer sewaan yang beberapa bulan ini akrab menemaniku. ‘Penggemar’ku yang biasanya mengirimiku selembar kertas tanpa amplop, sekarang mengirimiku sebuah disket yang dapat memuat beribu-ribu kartu ucapan.

Pukul xx:xx,
Selamat ... pagi, siang, sore dan malam ... (cocokkan sendiri dengan penunjuk waktu di sudut kanan bawah layar monitor di hadapanmu, itu pun jika kau menggunakan program yang sama denganku)
Empat tahun aku menunggu kesempatan ini
dan aku masih tak mampu mengucapkan secara langsung,
Aku memang pengecut, kalaupun berani itu bukanlah diriku
Aku hanya dapat mengagumimu, mengamatimu, dan mencintaimu dari kejauhan
Aku selalu gagal mematangkan rencanaku dan membuatnya menjadi kenyataan
Menyangkut dirimu, aku takut berterus terang tentang perasaanku
Aku yang selalu optimis dengan segala resiko atas tindakanku, di hadapanmu adalah pengecut dengan selembar kertas yang kugoresi tinta pena atau disket yang berisi kiloan byte kata-kata yang membuatku menjadi penyair tongop menjelepok di sudut kamar menangisi kekalahan ini
Tentang dirimu, aku tak mampu dan tak mau lagi berharap
Meski tak kupungkiri, kehadiranmu dalam mimpi-mimpiku yang membuatku mampu berterus terang pada monitor di depanku dan yang sekarang berada di depanmu
Aku tahu bahwa aku selalu terlambat, dan sekali lagi kalau tak pernah “terlambat” itu bukanlah diriku, aku masih ingin mengucapkan “SELAMAT ULANG TAHUN”
Salam,
:-)

Berkali-kali kubaca file “Selamat ulang tahun” tersebut, sampai air mataku kering. Aku tak berani mengalihkan perhatianku dari monitor di hadapanku. Tak kuhiraukan penyewa di sekitarku juga tak berani kususut air mata yang telah mengering di pipiku yang sebagian membasahi rok hitamku. - Seandainya sekarang kau ada di hadapanku, buanglah keraguanmu tersebut. Tak ada yang mesti dijelaskan. Jangan lagi kirimi aku kartu-kartumu, aku tak butuh. Kirimi aku seekor merpati, agar aku dapat mengatakan, “Apakah aku salah mengartikan kartu-kartumu?” -
***
Selesai di PalembangPada 23 Sept 02, pukul 23.39 Wib
Posted by abz at 14:14:55 | Permanent Link | Comments (0) |

Matinya Seorang Sahabat

Cerita Pendek Abaz

 

Sahabat, aku tak pernah bermaksud membunuhmu. Maafkan kekhilafanku. Aku tak pernah memperkirakan seperti ini akhirnya. Dalam mimpi pun aku tak akan sanggup membunuhmu. Keegoankulah yang membuatmu mati, meski aku tak pernah menganggapmu mati. Ataukah ini hanya ilusi? Yah, mungkin saja. Beberapa hari ini aku selalu mimpi buruk. Selalu, dalam mimpiku, kau mencaci maki diriku.

Sejak saat itu, jalan hidupku berubah. Aku tak pernah merasa sesepi ini. Kemarin, sendiri aku berselancar di Maldivez, padahal sebelumnya tak pernah aku lakukan. Dan kutelusuri beberapa kota di Korea, ke daerah-daerah bersejarah dan tempat-tempat religius. Hanya mataku yang melihat, tapi otakku tak mampu merekamnya. Ingatanku selalu terkenang perjalanan yang pernah kita lalui bersama.

Masih ingatkah kau pada malam menjelang pergantian tahun 2002 ke tahun 2003 yang lalu? Saat itu kita terjebak dalam rintik hujan di Selatan Jakarta, dan hanya bisa memandangi ribuan kembang api berwarna-warni memenuhi langit Jakarta dari sebuah kedai kopi. Kau bermenung, dan kubiarkan kau aduk-aduk kopimu sampai dingin. Meski pandanganmu menerawang, mata besarmu tak menunjukkan berjuta tanya yang tak berjawab. Meski bibirmu terkatup rapat, ada senyum kedamaian merona di wajahmu. Ingin kubertanya, ada apa? Tapi aku hanya diam, aku hanya bisa membiarkan apa yang kau lakukan, lakukanlah, asalkan kau suka. Aku berpikir, dari sinilah akar penyebab kematianmu. Dari sini pula aku merasa bahwa kau bukan sekedar sahabatku. Ada getar kehangatan dapat menjadi sahabatmu, dekat denganmu, menemanimu minum kopi. Ah.. seandainya waktu dapat berputar kembali ke masa lalu, aku memilih untuk tidak ikut pergi merayakan tahun baru pada masa itu. Terlalu banyak yang dikorbankan dan pada akhirnya menyebabkan kematianmu.

Sekali lagi, aku tak pernah bermaksud membunuhmu.

***

Sabtu yang cerah, pukul sepuluh pagi. Kumulai hariku dengan berbagai kesibukan yang tak perlu. Hari ini akan sibuk sekali, karena banyak pekerjaan kemarin dan kemarinnya lagi belum kuselesaikan. Begitu setiap hari. Memang kuakui, terlalu sering kumenunda pekerjaan. Untung saja pekerjaanku selalu selesai sesuai target, meskipun aku harus tidur larut malam menyelesaikannya. Hari ini aku harus membeli perlengkapan kantor dan kulakoni dengan senang hati, susana hatiku lagi bagus. Aku punya dua tiket untuk konser musik malam ini dan aku tahu siapa yang akan kuajak menikmati konser tersebut.

Pukul tujuh malam aku sudah berdiri di depan pintu rumah sahabatku tercinta. Setelah sedikit berargumen dan akhirnya ia setuju untuk menemaniku malam ini. //Aku tak bisa luruhkan hatimu// dan aku tak bisa menyentuh cintamu//… Sepenggal bait dalam lagu Menanti Sebuah Jawaban yang dinyanyikan oleh Padi tersebut terasa mengena dan menghujam ke dalam benakku. Serasa buah simalakama, tetapi apa mau dikata, aku harus melakukannya malam ini juga. Meski sudah kubulatkan hati, tapi aku tak mampu dan keberanianku terampas oleh keraguan. Dua hari kemudian, baru aku berani menulis pesan singkat lewat perangkat komunikasi yang akhirnya menjadi pilihanku.

Sebelumnya aku minta maaf, karena menyampaikan hal penting ini dengan pesan singkat, seharusnya aku bicara langsung berhadapan denganmu. Mungkin engkau masih ingat pembicaraan kita beberapa waktu yang lalu, bahwa aku akan memberikan kejutan. Yah…, semua yang kita bicarakan waktu itu adalah dirimu, tetapi aku takut kehilangan seorang sahabat, aku takut kau tak bisa menerima kelakuanku ini, dan karena kelancanganku yang tidak menganggapmu hanya sekedar sahabat. Aku memang dilahirkan tidak sempurna, dididik dengan tidak sempurna, cara hidupku jauh dari sempurna. Jika kau suka dengan orang yang tidak sempurna ini, datanglah padaku, maka kau dapat membuatnya menjadi sempurna.

 

Setelah tiga hari yang sangat menyiksa, akhirnya pesanku berbalas. Dan aku telah lama tahu, beginilah akhir episode buah kelancangan seorang sahabat. Jawabanmu sangat jelas, “TIDAK!”, meski kau masih mau bersahabat denganku dan kau tetap sahabatku. Aku yang sudah memperkirakannya, toh tetap terpukul. Aku dapat menerima alasanmu, tetapi aku butuh ketenangan untuk beberapa hari, sampai suasana hatiku normal kembali.

Entah diriku yang tidak dapat menerima kenyataan atau dirimu yang telah berubah, sampai hari ini persahabatan kita hanya tinggal kenangan. Tidak ada lagi pesan singkat, tidak ada lagi collect call, apa lagi saling kunjungi. Yah.. hanya tinggal kenangan. Aku telah membunuh sebuah persahabatan.

_________________

Watervang 141 – 19.09.05 (00:18)

Kupersembahkan kepada sahabat-sahabatku yang merasa kecewa atas semua tindakan yang mengecewakan kalian.

Posted by abz at 14:10:20 | Permanent Link | Comments (2) |