Kamis, Februari 23, 2006

Salah Dosis

Salah Dosis

Seorang bule dari Inggris yang bekerja di Kedutaan Besar Inggris di Jakarta pergi ke apotik untuk menebus obat yang diberikan oleh dokter yang juga bekerja di kedutaan tersebut. Obat tersebut penting bagi dirinya untuk mengurangi alergi yang dideritanya. Dosis yang diberikan dokternya adalah 1 ounce (ons) untuk setiap kali minum setiap hari berupa obat serbuk. Dokter memberinya untuk 3 hari dan bila dalam 3 hari belum menunjukkan hasil, maka ia akan diberikan obat lain.  Oleh sebuah apotik yang buka 24 jam di Jakarta Pusat, obat tersebut telah dipisahkan menjadi 3 kantong dengan berat masing-masing 1 ons. Baru sekali meminum obat tersebut, si bule dilarikan ke rumah sakit karena keracunan obat. Setelah diselidiki ternyata apoteker salah memberikan dosis obat pada setiap kantong. Pada 2 kantong yang tersisa setelah ditimbang ternyata beratnya masing-masing kantong adalah 100 gram. Akibatnya apoteker tersebut diharuskan membayar denda sebesar seratus juta rupiah, karena membahayakan nyawa seseorang. (Sebuah Ilustrasi).

Mengapa si apoteker disalahkan, bukankah ia memberikan dosis yang benar untuk setiap bungkus berdasarkan resep dokter? MENGAPA?

Semua orang mempertanyakan hal yang sama, dan jawabannya sangat sederhana. Si Apoteker tidak tahu, bahkan mungkin kita semua juga tidak tahu dan tidak menyadari, bahwa ternyata dasar konversi berat dari ounce (ons) ke gram yang kita tahu selama ini salah. Coba saya tanyakan kepada anda, ada berapa gram dalam 1 ons? Mudah-mudahan tidak semua yang membaca tulisan ini menjawab 100 gram. Karena berdasarkan standar internasional, 1 ounce (ons) sama dengan 28,3495 gram. Bagi anda yang punya ponsel dengan fasilitas converter (konversi) dapat membuktikan sendiri ternyata 1 ons bukan 100 gram. Dari ilustrasi di atas, wajar saja kalau si apoteker disalahkan, karena dosis yang diberikannya hampir empat kali dosis seharusnya.

Kalau sudah begini, siapakah yang harus disalahkan? Menteri Dikjar-kah? Guru-kah? Atau para murid? WALLAHUALAM... :-)abz.

Posted by abz at 14:49:44 | Permanent Link | Comments (0) |

Catatan Sebuah Ekspedisi

Tulisan ini hanya akan menyoroti mahalnya biaya transportasi dalam sebuah ekspedisi.


Kamis, 16 Pebruari 2006 sekitar pukul 20.00 WIB ane mengangkat telepon dari nomor simpati yang belum terdaftar di handset ane.

"Assalamualaikum, ini siapa?"

"Ini Toyib, Kak."

"Kau dimano? Baru turun dari Dempo, yah?"

"Kami sekarang ado di tempat Kak Puda, kakak ke sini bae."

"Tunggulah, aku segera ke sano."

Sampai di tempat kak Puda, mereka (Sekon, Fatimah, dan Erlin) sedang asyik ngobrol dengan keluarga kak Puda ditemani rokok dan kopi hangat. Asyik nih. Malam itu, ane ajak ketiga orang yang baru pulang Diklat tersebut untuk menginap di Kantor Simpul Linggau di Watervang.

Jum'at, 17 Pebruari 2006, dari rumah kak Puda, pukul 16.30 kami berempat jalan kaki ke stasiun (lho, stasiun?). Emang stasiun, koq. Karena sore mobil ke arah Curup banyak yang mangkal di stasiun menunggu kedatangan penumpang kereta api Serelo dari Palembang, jadi kami tidak perlu ke terminal.

"Kemano? Curup?" tanya seorang sopir angkot yang kami temui di depan stasiun.

"Langsung yo, kak?"

"Iyo. Nak mendaki Kaba, kan?"

Sedikit khawatir, akhirnya kami naik ke angkot tersebut. Kekhawatiranku akhirnya berbuah kejengkelan. Sopir angkot tersebut calo angkutan ke Curup, si sopir mengantar hanya sampai terminal Watas dan dengan berat hati kami bayar sesuai tarif yang berlaku, 10rb untuk 4 orang. Ane tidak tahu, berapa rupiah sopir itu dikasih oleh calo terminal. Yang jelas, calo terminal merasa tertipu oleh sopir angkot tersebut, karena kami dikira akan ke Curup, padahal hanya sampai Simpang Bukit Kaba. Calo terminal minta kami membayar 15rb per orang, artinya kami harus keluar 60rb lagi. Tawar menawar, akhirnya sepakat kami harus membayar 50rb untuk sampai ke Simpang Bukit Kaba (Tarif sebenarnya adalah 8rb per orang). Berapa yang harus kami bayar bila naik dari stasiun???..

Dari Simpang Bukit Kaba, kami naik ojek sampai pintu rimba dan membayar ongkos ojek 7,5rb per orang (tarif sebenarnya 6rb), lho! "La malem, mas." Katanya memberi alasan.

Sabtu, 18 Pebruari 2006, dari Bukit Kaba sampai ke Lubuklinggau, kami mengeluarkan ongkos sebesar 55rb rupiah. Jadi pada ekspedisi ini ongkos transport yang dikeluarkan Lubuklinggau - Bukit Kaba PP adalah sebesar 145rb rupiah untuk 4 orang atau Rp.36.250,- per orang. Bila di kalkulasi secara ekonomi, ternyata biaya transportasi mencapai 80% dari total biaya ekspedisi. Ini menjadi pelajaran berharga dalam manajemen ekspedisi, karena tidak ada harga pas untuk biaya transportasi. ;-)abz.

Posted by abz at 14:46:35 | Permanent Link | Comments (2) |