Archive for the ‘Info’ Category

Pertamina Jago Kandang

Posted on November 7th, 2009 in Info, Review | 3 Comments »

Pertamina jago kandang, hmm.. siapa bilang? Yang berpikiran Pertamina jago kandang, pasti tidak suka memperhatikan berita di televisi, membaca koran, atau melirik media terbitan Pertamina dan hanya suka pada infotainment gosip murahan tentang artis yang kawin cerai.

Sepuluh tahun terakhir Pertamina mengalami perubahan yang cepat. Pertamina mengincar sumber-sumber migas di luar negeri. Awalnya memang join dengan perusahan migas luar negeri kemudian mulai merambah ke manca negara.

Saat ini Pertamina mengelola ladang migas di Irak, Malaysia, Libya, Sudan, Qatar, dan Australia dan mengakuisisi ladang lepas pantai di utara jawa barat milik BP West Java Ltd. Bukankah ini sangat membanggakan bangsa Indonesia? Pertamina semakin dekat menjadi National Oil Company (NOC) kelas dunia.

Pertamina melakukan tiga terobosan penting. Pertama, Pertamina merambah ladang-ladang minyak di beberapa negara. Kedua, Pertamina tidak hanya menggarap ladang minyak di darat, tetapi sudah merambah ladang minyak lepas pantai. Ketiga, Pertamina berani mengakuisisi blok-blok migas dan membeli Participating Interest blok yang masih ekonomis.

Industri hulu Pertamina telah bermetamorfosis, begitu pun industri hilirnya. Pertamina berani berkompetisi dengan perusahaan kelas dunia dalam menyediakan Pelumas berkualitas tinggi, bukan hanya di dalam negeri, juga meluncurkan pelumas untuk pasar konsumen di negeri kangguru. Ini salah satu bukti slogan “Kerja Keras adalah Energi Kita”.

Mudah-mudahan semangat Pertamina menjadi Perusahaan Minyak Nasional kelas dunia dapat cepat terwujud. Seperti harapan saya dalam mengikuti:

Pertamina Blog Contest


Anda Patut Mencoba yang Satu Ini

Posted on October 26th, 2009 in Info | No Comments »

Bagi para blogger yang biasa mereview atau para pemasang iklan, anda patut mencoba yang satu ini: Reviewmu

Menurut si empu-nya website ini, di sinilah tempat pertemunya antara blogger dan advetiser yang pertama di Indonesia. Bagi yang penasaran silahkan mencobanya.

Berikut adalah cara untuk memulainya:

1. Daftarkan Blog Anda

Dengan mendaftarkan blog anda pada jaringan reviewmu[dot]com, pemasang iklan dapat mencari anda dan dapat langsung membeli review dari anda. Tentukan harga yang anda inginkan, anda memiliki kebebasan untuk menerima atau menolak tawaran dari pemasang iklan. Sekali anda menerima tawaran review, anda harus menyelesaikannya dalam jangka waktu 7 hari.

2. Mencari Advertiser

Anda dapat mencari job dalam jaringan kami untuk mencari pemasang iklan dengan produk atau jasa yang anda ingin tuliskan reviewnya. Bila diterima, anda harus menulis review tersebut dalam blog anda dalam jangka waktu 7 hari.

About Export

Posted on October 1st, 2009 in Info | No Comments »

Source: wikipedia

In economics, an export is any good or commodity, transported from one country to another country in a legitimate fashion, typically for use in trade. Export goods or services are provided to foreign consumers by domestic producers. Export is an important part of international trade. Export of commercial quantities of goods normally requires involvement of the customs authorities in both the country of export and the country of import. The advent of small trades over the internet such as through Amazon and e-Bay has largely bypassed the involvement of Customs in many countries due to the low individual values of these trades. Nonetheless, these small exports are still subject to legal restrictions applied by the country of export. An export’s counterpart is an import. For more information about export can be read in all about gray.

Tigaperempat Hari di Musim Hujan

Posted on June 20th, 2006 in Info | No Comments »

Jalan aspal yang licin setelah diguyur hujan tidak membuat kendaraan yang berlalu lalang mengurangi laju kendaraannya di jalan lintas yang melewati kota tempat aku tinggal. Kerap aku berpikir, apa yang mereka kejar, baik mobil atau pun motor. Toh, hujan sudah berhenti. Mereka pasti punya alasan, YA pasti.

Belum lama aku mengamati kesibukan di jalan dari lantai dua tempat aku tinggal, dari arah sebelah kanan meluncur sebuah sepeda motor tanpa pengemudi. Aku terkejut, koq bisa?… Motor tersebut terus bergerak di atas kedua rodanya dan semakin miring akhirnya meluncur di atas body kirinya menimbulkan suara bising dan percikan api dan terlempar sampai 50 meter.

Dimana pengemudinya? Aku celingukan menoleh ke kanan-kiri. Sepertinya si pengemudi adalah orang yang berusaha berdiri dan bersama seorang yang diboncengnya tertatih ke pinggiran jalan. Mereka mengenakan seragam putih - abu-abu. Hmm, anak SMA.

Motor tersebut menyerempet bagian belakang kanan sebuah mobil taft yang juga meluncur dengan cepat. Mobil tersebut terus meluncur dan melambat seiring motor yang mendesing di sebelah kanannya. Pengemudi mobil memarkir mobilnya di tepi jalan dan turun ke jalan mengangkat motor yang mesinnya telah mati dan membawa lari motor tersebut ke arah datangnya motor dan membelok ke jalan kecil persis di depan kantor tempat aku tinggal. Si pengemudi mobil berusaha untuk menghindari keramaian akibat kecelakaan tersebut, dan juga menghindari kemungkinan adanya pihak kepolisian yang mencium wanginya uang akibat kelalaian pengguna jalan. Pemikiran yang cepat dan cerdas, dengan tindakan tersebut si pengemudi mobil hanya menghadapi satu pihak, sehingga kerugian dapat ditekan.

Sejak delapan bulan yang lalu, aku menapakkan kaki di sini, sudah sering aku menyaksikan kecelakaan lalu lintas. Dalam hitunganku, sudah enam kali kusaksikan secara langsung (live). Kata beberapa orang yang sering bergunjing setiap terjadi kecelakaan di lokasi yang sama di jalan lintas ini, di daerah ini ada jin penunggu pohon cempedak. Pohon tersebut memang sudah tua, dan beberapa rumpun tanaman salak, dua batang pohon durian, sebatang pohon alpukat, dan beberapa pohon kelapa yang tumbuh pada sebidang tanah persis di sebelah gedung tempat aku tinggal menambah seram daerah ini. Beberapa pengemudi motor yang pernah mengalami kecelakaan di daerah ini, sebelum terjadi kecelakaan mereka seperti melihat sesosok makhluk hitam dan besar di bawah pohon cempedak yang kanopinya memang sampai menutupi seperempat badan jalan. Aku tertawa dalam hati, dan mungkin kalian juga akan tertawa, kalau anda tahu dan melihat sendiri cara orang-orang berkendaraan.

Mereka semua rata-rata tidak memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM), setahu saya seseorang baru boleh mengemudikan kendaraan jika memiliki SIM dan telah berusia di atas 17 tahun, toh… di sini anak-anak SMP pun banyak yang mengendarai motor. Mereka, terutama pengemudi kendaraan roda dua, kalau mau masuk ke lorong sebelah kanan atau kiri jalan, tanpa aba-aba langsung nyelonong, meski di belakang dan hadapannya ada kendaraan yang melaju lurus dan kalau tidak hati-hati akan menabrak si pengemudi yang nyelonong tadi. Di sini juga banyak dijumpai pengemudi yang menggunakan jalur berlawanan (melaju di sebelah kanan jalan), sehingga kendaraan dari arah yang benar terpaksa memakan jalur di sebelahnya.

Kembali ke isu jin penunggu pohon cempedak, mereka yang mengalami kecelakaan mencari kambing hitam untuk menutupi kesalahan mereka, bahwa mereka tidak bisa mengemudi, mereka tidak hati-hati, dan mereka tidak mematuhi aturan lalu lintas. Semoga anda, jika sempat ke sini, terhindar dari musibah karena kelalaian pengemudi di sini. Trotoar pun di sini banyak yang sumbing, karena di seruduk motor dan mobil. Hati-hati memarkir kendaraan, kalau bisa masuk ke lahan khusus parkir atau ke halaman gedung atau rumah, karena tidak ada jaminan selamat dari serudukan mobil dan motor. Kota tempat saya tinggal ini bernama LUBUKLINGGAU.

Salah Dosis

Posted on May 17th, 2006 in Info | No Comments »

Salah Dosis

Seorang bule dari Inggris yang bekerja di Kedutaan Besar Inggris di Jakarta pergi ke apotik untuk menebus obat yang diberikan oleh dokter yang juga bekerja di kedutaan tersebut. Obat tersebut penting bagi dirinya untuk mengurangi alergi yang dideritanya. Dosis yang diberikan dokternya adalah 1 ounce (ons) untuk setiap kali minum setiap hari berupa obat serbuk. Dokter memberinya untuk 3 hari dan bila dalam 3 hari belum menunjukkan hasil, maka ia akan diberikan obat lain.  Oleh sebuah apotik yang buka 24 jam di Jakarta Pusat, obat tersebut telah dipisahkan menjadi 3 kantong dengan berat masing-masing 1 ons. Baru sekali meminum obat tersebut, si bule dilarikan ke rumah sakit karena keracunan obat. Setelah diselidiki ternyata apoteker salah memberikan dosis obat pada setiap kantong. Pada 2 kantong yang tersisa setelah ditimbang ternyata beratnya masing-masing kantong adalah 100 gram. Akibatnya apoteker tersebut diharuskan membayar denda sebesar seratus juta rupiah, karena membahayakan nyawa seseorang. (Sebuah Ilustrasi).

Mengapa si apoteker disalahkan, bukankah ia memberikan dosis yang benar untuk setiap bungkus berdasarkan resep dokter? MENGAPA?

Semua orang mempertanyakan hal yang sama, dan jawabannya sangat sederhana. Si Apoteker tidak tahu, bahkan mungkin kita semua juga tidak tahu dan tidak menyadari, bahwa ternyata dasar konversi berat dari ounce (ons) ke gram yang kita tahu selama ini salah. Coba saya tanyakan kepada anda, ada berapa gram dalam 1 ons? Mudah-mudahan tidak semua yang membaca tulisan ini menjawab 100 gram. Karena berdasarkan standar internasional, 1 ounce (ons) sama dengan 28,3495 gram. Bagi anda yang punya ponsel dengan fasilitas converter (konversi) dapat membuktikan sendiri ternyata 1 ons bukan 100 gram. Dari ilustrasi di atas, wajar saja kalau si apoteker disalahkan, karena dosis yang diberikannya hampir empat kali dosis seharusnya.

Kalau sudah begini, siapakah yang harus disalahkan? Menteri Dikjar-kah? Guru-kah? Atau para murid? WALLAHUALAM… :-)abz.

Catatan Sebuah Ekspedisi

Posted on April 9th, 2006 in Info | 2 Comments »

Tulisan ini hanya akan menyoroti mahalnya biaya transportasi dalam sebuah ekspedisi.


Kamis, 16 Pebruari 2006 sekitar pukul 20.00 WIB ane mengangkat telepon dari nomor simpati yang belum terdaftar di handset ane.

“Assalamualaikum, ini siapa?”

“Ini Toyib, Kak.”

“Kau dimano? Baru turun dari Dempo, yah?”

“Kami sekarang ado di tempat Kak Puda, kakak ke sini bae.”

“Tunggulah, aku segera ke sano.”

Sampai di tempat kak Puda, mereka (Sekon, Fatimah, dan Erlin) sedang asyik ngobrol dengan keluarga kak Puda ditemani rokok dan kopi hangat. Asyik nih. Malam itu, ane ajak ketiga orang yang baru pulang Diklat tersebut untuk menginap di Kantor Simpul Linggau di Watervang.

Jum’at, 17 Pebruari 2006, dari rumah kak Puda, pukul 16.30 kami berempat jalan kaki ke stasiun (lho, stasiun?). Emang stasiun, koq. Karena sore mobil ke arah Curup banyak yang mangkal di stasiun menunggu kedatangan penumpang kereta api Serelo dari Palembang, jadi kami tidak perlu ke terminal.

“Kemano? Curup?” tanya seorang sopir angkot yang kami temui di depan stasiun.

“Langsung yo, kak?”

“Iyo. Nak mendaki Kaba, kan?”

Sedikit khawatir, akhirnya kami naik ke angkot tersebut. Kekhawatiranku akhirnya berbuah kejengkelan. Sopir angkot tersebut calo angkutan ke Curup, si sopir mengantar hanya sampai terminal Watas dan dengan berat hati kami bayar sesuai tarif yang berlaku, 10rb untuk 4 orang. Ane tidak tahu, berapa rupiah sopir itu dikasih oleh calo terminal. Yang jelas, calo terminal merasa tertipu oleh sopir angkot tersebut, karena kami dikira akan ke Curup, padahal hanya sampai Simpang Bukit Kaba. Calo terminal minta kami membayar 15rb per orang, artinya kami harus keluar 60rb lagi. Tawar menawar, akhirnya sepakat kami harus membayar 50rb untuk sampai ke Simpang Bukit Kaba (Tarif sebenarnya adalah 8rb per orang). Berapa yang harus kami bayar bila naik dari stasiun???..

Dari Simpang Bukit Kaba, kami naik ojek sampai pintu rimba dan membayar ongkos ojek 7,5rb per orang (tarif sebenarnya 6rb), lho! “La malem, mas.” Katanya memberi alasan.

Sabtu, 18 Pebruari 2006, dari Bukit Kaba sampai ke Lubuklinggau, kami mengeluarkan ongkos sebesar 55rb rupiah. Jadi pada ekspedisi ini ongkos transport yang dikeluarkan Lubuklinggau - Bukit Kaba PP adalah sebesar 145rb rupiah untuk 4 orang atau Rp.36.250,- per orang. Bila di kalkulasi secara ekonomi, ternyata biaya transportasi mencapai 80% dari total biaya ekspedisi. Ini menjadi pelajaran berharga dalam manajemen ekspedisi, karena tidak ada harga pas untuk biaya transportasi. ;-)abz.