Archive for the ‘Sajak’ Category

Vegetarian

Posted on December 5th, 2008 in Sajak | No Comments »

            “Nasi ayamnya berapa, Bu?” Tanya Ken kepada pelayan warung nasi di simpang lampu merah Bukit Besar.

            “Tiga ribu
lima ratus. Mau makan di sini atau semuanya dibungkus?” jawab pelayan yang ditanya.

            “Iya. Dibungkus.”  Jawabku.

            “Berapa bungkus?” Tanya pelayan itu juga.

            “Lima bungkus.”

            “Tapi tunggu sebentar, yah. Nasinya belum cukup. Sebentar lagi juga matang.”

            “Kalau nasi pergedel, berapa?” Tanya Ken lagi.

            “Dua ribu.”

            “Nasi terong?”

            “Survey harga, yah?” Tanya Syam kepada Ken yang mulai kumat isengnya, “Atau mau buka warung nasi?”

            “Seribu dua ratus.” Jawab pelayan itu lagi.

            “Kalau begitu nasi tahu, saja.” Kata Ken, dan kemudian ia berbisik kepada Syam, “Aku titip tempe di bungkusan kau, yah?”

***

            Saat itu ada enam orang yang berkumpul di ruang sempit dan penuh asap rokok. Kamar, kalau dapat disebut demikian, yang berukuran sembilan meter persegi tersebut disekat dengan triplek pembatas. Sebagian digunakan sebagai gudang tempat menyimpan kasur dan bagian depan ditata supaya kelihatan apik dan luas. Buku-buku yang biasanya disusun di rak, terpaksa diikat dengan tali plastik dan sebagian dimasukkan ke dalam kardus-kardus dan ditempatkan di atas lemari tempat pakaian dan perlengkapan adventure.

            Sebenarnya yang tinggal di tempat (bedeng) tersebut, hanya dua orang. Pada saat seperti ini saja cukup ramai. Kelakar, buat program, atau cuma sekedar kumpul-kumpul.

            “Aku heran, sejak Ken pulang dari Bandung, ia berubah. Sekarang ia menjadi pemakan …, apa itu namanya? Seperti kelinci saja.”

            “Bukan…”  Sela Syam kepada Agus, “Bukan seperti kelinci, tapi seperti kindaro[1] tolol yang malu-malu ketika interest pada sesuatu.”

            “Mungkin, ia sekarang sedang ngelmu.” Kata Heynce menanggapi ucapan Syam dan Agus.

            “Menurutku, karena ia sudah kehilangan empat Syech-nya yang cuma sebelas itu.” Kata Aris berkomentar. “Jadi ia harus membujuk syech-nya yang hilang itu dengan tidak memakan semua yang berbau hewani supaya balik lagi.”

            “Yang jelas, ia sekarang buntu. Buktinya kemarin dan setiap makan bersama kami ia selalu cuma pesan nasi tempe walau porsinya berlebihan untuk orang yang sedang diet.” Kata Syam.

            “Tapi bisa jadi, ia sekarang ingin moksa.” Sambung Aris.

            “Atau..” Kataku, “…ia sedang belajar memakan serat-seratan tanaman, kemudian daging-dagingan supaya tidak kaget, baru kemudian menjadi kanibal. Tapi itu mungkin saja lho, ia sudah memperkirakan bahwa negara tercinta kita ini tidak mampu lagi menghasilkan tanaman dan ternak, sehingga harus siap-siap menjadi pemangsa yang lemah.”

            “Jangan begitu, ah… Aku jadi merinding.” Kata Atuk. Di dusunku masih banyak yang dapat dilakukan untuk menghasilkan makanan.”

            “Tapi, bukankah semuanya sudah dimodifikasi, tidak alami lagi, sudah banyak zat tambahan, terutama bahan kimia.” Sambungku.

            “Sudahlah, kita kan sekarang sedang bahas masalah Ken yang berubah. Jangan melencenglah.” Kata Heynce.

            Memang, banyak kemungkinan Ken menjadi vegetarian. Walaupun itu hal yang lumrah, tapi kami merasa ada hal yang aneh, pasti ada tujuan tertentu. Aku tahu selama ini ia sudah aneh, dan setiap ia muncul ada-ada saja kelakuannya yang menurut kami tidak masuk akal. Alasan-alasan ia menjadi vegetarian, aku heran, selalu terlintas dibenakku, dan menjadi bahan perdebatan yang menarik di antara kami.  Mungkin ia memang sedang diet, tapi bukankah badannya yang kerempeng tersebut lebih cocok kalau alasannya mau merasakan hidup prihatin.  Ia alergi, tapi tidak, ia cuma alergi pada kompor, katanya trauma.  Lebih masuk akal kalau ia sekarang mengikuti aliran tertentu.  Benar, setiap beberapa hari dalam seminggu ia tidak berada di rumahnya, padahal kami tahu ia orang yeng betah di rumah, atau kalau tidak ia akan lebih senang jika berkumpul dengan kami.

            Sepuluh tahun lebih aku mengenalnya, tapi aku merasa tidak benar-benar mengenalnya.  Entahlah.  Menurut hasil diskusi yang dalam beberapa hari ini terus kami lakukan untuk membahasnya, kami berkesimpulan bahwa yang tahu alasan mengapa Ken sekarang menjadi seorang vegetarian adalah Qijo di Bandung, karena kami tahu beberapa minggu yang lalu Ken ke Bandung dan diajak oleh Qijo dan teman-temannya ke suatu tempat yang menurut orang keramat.  Tugas kami sekarang adalah menghubungi Qijo untuk meng-klarifikasi kelakuan Ken sekarang.

***

            “Halo, ada Ical.” Kata Atuk menanyakan nama kecil Qijo di telepon. 

“Yah, saya sendiri.”

Dan akhirnya kami pun tahu penyebab Ken menjadi vegetarian.  Ini semua provokasi dari Qijo.  Tetapi salah Ken sendiri yang percaya dengan kata-kata Qijo.

***

            Meski akhirnya Ken boleh bangga, dengan jerih payah dan keyakinannya ia diterima menjadi Sinder, asisten lapangan, di sebuah perusahaan perkebunan milik pemerintah.

***


[1] Pelesetan monyet yang dibuat Qjo dalam bahasa Jepang.

Tentang Kebebasan

Posted on December 5th, 2008 in Sajak | No Comments »

            “Setelah mempertimbangkan usul dari kawan-kawan, bahwa acara pertemuan ini harus segera kita dimulai de…”

            “Tunggu dulu,” kata-kata Achingae tersebut dipotong oleh Aris. “Siapa yang menunjuk anda untuk memimpin pertemuan ini?”

            “Iya, benar.” Sambung Atuk, “kita harus sepakati dahulu”

            “Yang mana harus kita sepakati terlebih dahulu,” kata Halim. “Apakah siapa yang harus memimpin pertemuan ini yang pertama kita sepakati, ataukah siapa yang akan memimpin musyawarah untuk mencapai kesepakatan siapa yang memimpin pertemuan ini?”

            “Tapi …?” Iip bingung hendak melanjutkan kata-katanya.

            “Tapi, mengapa?” Tanya Qijo yang juga bingung dan ingin mendengarkan kelanjutan kata-kata Iip.

            Semua mata memandang kepada Iip. Pertemuan ini dihadiri oleh 13 orang, 5 orang diantaranya adalah wanita. Ke-13 orang ini bertemu ingin membicarakan sebuah rencana kegiatan dan mereka mencoba menerapkan persamaan hak setiap orang, sebelum rencana yang akan dibicarakan dimatangkan.

            “Begini,” lanjut Iip. “Siapa yang akan memimpin acara untuk membuat keputusan orang yang akan memimpin musyawarah untuk mencapai kesepakatan siapa yang memimpin pertemuan ini?”

            “Iya, yah.” Gumam beberapa orang.

            Tia yang biasa menjadi sekretaris baik dalam satu kegiatan maupun dalam organisasi bertanya karena penasaran, “jadi, usul siapa yang harus kita terima?”

            Semua menjadi bingung, semua usul dan pertanyaan tersebut mendesak untuk dijawab. Sal yang kontraversi nyeletuk, “bagaimana kalau semua usul dan pertanyaan dicatat.”

            “Jangan menambah masalah, dong.” Kata Ija. “Siapa yang akan mencatat? Lha wong yang akan memimpin pertemuan ini tidak ada.”

            Memang usul Sal dapat diterima, kalau permasalahannya tidak serumit sekarang dan memang dibuat rumit. Semua menjadi bingung. Pembicaraan pokok yang akan dibicarakan belum sedikitpun disinggung. Mereka sama-sama berpikir dan jalan pikiran mereka sama, tapi pandangan mereka berbeda. Cukup sederhana, tapi pelik, memang.

            “Boleh, saya bicara?” tanya Elis yang sejak awal diam tidak mengeluarkan pendapat.

            “Tunggu.” Kata Atuk, sebelum yang lain memperbolehkan Lis bicara. “Saya juga ingin bicara dan kupikir tidak seorangpun diantara kita yang dapat memutuskan apakah Elis boleh bicara atau tidak. Saya pikir kita harus segera memutuskan siapa yang akan memimpin pertemuan hari ini.”

            “Maaf.” Potong Ofie, “Sebelumnya kita harus memutuskan dan menunjuk orang yang akan memimpin musyawarah untuk menentukan pemimpin pertemuan hari ini.”

            “Dan …,” sambung Ichi dan Ifan berbarengan yang diteruskan oleh Ichi sendiri, “Sebelumnya kita harus menentukan pimpinan yang akan memimpin musyawarah dalam penunjukan pimpinan pertemuan hari ini.”

            Ke-13 orang yang menghadiri pertemuan tersebut berusaha berpikir keras, dahi mereka berkerut, alis mereka hampir bertaut. Mereka berdiam diri beberapa saat sampai akhirnya Ifan memecah kesunyian dengan usul cemerlangnya. “Bagaimana kalau kita makan bakso dulu?” Ketika melihat tukang bakso lewat, “dan saya yang akan mentraktir anda semua.”

            “Sepakat.” Jawab ke-12 orang lainnya serentak.

            Sekarang tukang bakso yang repot melayani ke-13 orang tersebut dengan pesanan berbeda-beda. Ada yang tidak pakai mie, tidak pakai penyedap rasa, atau sambal. Yang lebih gila lagi, ada yang memesan tanpa sendok, memangnya mau makan dengan mengobok-obok isi mangkok? Hihh, sereem..!

            “Bagaimana kalau kita minta Mamang tukang bakso untuk memimpin musyawarah pertama untuk menentukan siapa yang akan memimpin musyawarah dalam penunjukan pimpinan pertemuan hari ini?” Usul gila Ijah, ketika mereka semua sudah selesai makan.

            Semua memikirkan usul Ijah dan mereka mengangguk setuju. Untung saja Mamang tukang bakso setuju, ketika diberi kehormatan untuk memimpin ke-13 orang tersebut walaupun untuk satu keputusan. Kalau tidak … sulit dibayangkan.

            Dan pertemuan pada hari tersebut tidak sia-sia dalam mencapai kesepakatan siapa yang memimpin pertemuan pada hari tersebut.

Sajak Debu

Posted on December 5th, 2008 in Sajak | No Comments »

        Sejauh ini aku merasa normal, meski katamu ukuranku mikron.  Mungkin kau benar dan kau yang punya kuasa berpikir, Meski tak dapat diingkari kau berasal dariku dan akan kembali menjadi aku, demikian takdirnya.

        Aku, sampai saat ini tidak pernah sendiri.  Tetapi tentu saja jika sengaja kau pisahkan, aku menjadi tunggal dan itu bukanlah aku, karena aku (jamak) adalah debu.  Aku selalu mempunyai kawan.  Kawanku tak terhitung jenisnya, apalagi jumlahnya, lebih bijaksana jika kusebut saja kawan-kawanku dengan mereka.  Mereka, setiap jenisnya merupakan struktur yang jarang berdiri sendiri.  Aku bersama mereka membuat koloni yang besar dan membuat manfaat besar bagimu, tapi hati-hati, bila kau salah bertindak aku dan kawan-kawanku mendatangkan bencana.

        Aku tidak pernah kesepian, meski di sini sunyi, mereka selalu bercerita padaku tentang daerah-daerah yang tidak pernah kulihat.  Kata mereka aku ada dimana-mana.  Aku percaya, kebohongan tidak pernah ada di antara kami.  Aku sudah bersama mereka sejak aku belum mempunyai nama, bahkan jauh sebelum kau ada.  Mereka melihat aku, sulit kubayangkan, di dasar palung-palung yang gelap, di puncak gunung-gunung yang tinggi, menjadi bagian dari awan-awan yang dari sini kelihatan putih dan menawan, di bawah lapisan salju, dan di padang-padang pasir yang panas. 

Aku senang mendengar mereka bercerita, tentang pengalaman mereka yang menakjubkan.  “Sering …”  kata mereka  “… kita mengaramkan kapal dengan menjebaknya dalam badai.”  Selalu, setiap mereka bercerita, aku ingin sekali berada di sana, membuat badai yang besar, meluapkan sungai, dan membuat longsor.  Meski aku tahu bahwa aku ada di sana, tapi selalu ada perbedaannya.

Sampai pada hari ini, harapanku akan menjadi kenyataan, aku sengaja mengikuti langkah sepatu boot seorang pemburu dan berpegangan erat pada alasnya takut kalau-kalau impianku akan terputus.  Aku terlena dan tertidur ketika sedang menikmati irama langkah sang sepatu dan baru terjaga ketika mendengar sapaan mereka yang segera kukenali, kawan-kawanku.

“Selamat terjaga, kawan.  Dan inilah realita.”  Mereka tersenyum ramah.

Aku membalas senyum mereka, “Realita? Apakah aku selama ini bermimpi? Dan dimanakah aku sekarang?”

“Tidak, engkau tak pernah bermimpi. Ini akan menjawab pertanyaanmu selama ini. Jangan khawatir, engkau berada dalam perlindungan kami.  Engkau hendak kemana?”  Mereka berputar-putar di sekelilingku.

“Aku mengikuti impianku yang ingin berada dalam sebuah petualangan yang menakjubkan.  Sebuah badai misalnya.”

“Ha… ha… ha….  Dengarlah gemuruh ini dan rasakan, engkau sekarang ikut dalam petualangan ini, bersama banjir bandang, dan telah menjadi agenda kita setiap tahun.”

Wow!  Seindah inikah?”

“Ini belum seberapa, rencananya untuk yang akan datang akan kita buat yang lebih dahsyat.”

“Aduh!”

“Ada apa? Kau tidak suka? Tidak senang…?”

“Bukan begitu…, aku pusing.  Antarkan aku ke darat.”

“Engkau hanya belum terbiasa.  Tidurlah!  Kami akan menjagamu dan mengantarkanmu ke darat.”

Aku terjaga di tempat yang kering, benar-benar kering dan membuat aku menjadi ringan.  Aku menjadi mudah bergerak dan ini tidak kusukai.  Meski di sini aku menjumpai teman-teman lama, tapi selalu saja aku merasa asing.  Dan tiba-tiba aku telah membubung tinggi ke langit, menembus mega, melintasi samudera, aku semakin terasing.  Belum lagi angin yang mengajakku berputar-putar menghalau nelayan, membantu laut menerjang karang yang angkuh menantang.  Inilah topan, puting beliung, badai dan entah apa lagi kau namakan. Aku menjadi tumpuan kawan-kawan kecilku yang membuat lidah api di antara gemuruh angin.  Aku mual dan berharap ini segera berakhir.

Petualangan seperti ini tidak kusuka, aku salah selama ini. Seakan-akan semua menghukumku, aku terjebak dalam kebimbangan.  Terlontar dari satu peristiwa kepada peristiwa lain, dan sekarang aku kembali membubung tinggi ke angkasa di selimuti awan gelap.  Tidak, inilah diriku saat ini, menjadi hitam bersama kawan-kawanku yang sebelumnya merah membara.  Aku letih, benar-benar letih.

Kanker Otak

Posted on December 5th, 2008 in Sajak | No Comments »

            Sementara mataku tak dapat dibuka, teraso berat nian, dari tenggorokanku keluar suara gerungan, mirip suara hewan yang disembelih, atau seperti marahnya seekor harimau, tapi bukan auman; beruang mungkin.  Mulutku cuma mampu sebelah terbuka, pada bagian kanan. Gigiku terkatup rapat.  Dalam benakku bermunculan dugaan, “apakah aku sekarang sedang kemasukan roh binatang buas?” Tapi itu kutepis, aku yang realistis tak mungkin berpikiran seperti ini.  Aku tak percaya takhyul. “Atau mungkinkah aku terinfeksi virus atau bakteri?  Mungkinkah…?”  Dan aku tak sadarkan diri.

            Aku kembali tersadar dan kaget oleh gerunganku sendiri, lebih keras.  Mataku tetap tak dapat kubuka.  Seluruh bagian otak kiri kufungsikan untuk berpikir, “Ini adalah mimpi.”

“Tidak! Ini bukan mimpi” Bantah otak kiriku.  “Tapi, bukankah alam bawah sadar tidak pernah beristirahat selama 8.766 jam setahun, dan pada saat tidur aktivitasnya lebih banyak, kadang-kadang ke tempat yang tidak kita inginkan.”

            Aku berhenti berpikir, yang kuperlukan sekarang adalah bagaimana aku dapat keluar dari kemelut ini.  Bila ini mimpi aku ingin segera mengakhirinya, sungguh menakutkan bila ini adalah benar.  Aku butuh pertolongan. Cogito ergo sum cogitan”, keluhku mengutip teori Descartes1.

            “Dina!”, teriakku memanggil adikku, tapi suaraku yang keluar hanya berupa gerungan, atau telingaku kah yang tak beres? Telingaku baru seumur hidungku.  Aku tersadar, hidungku pun tak berfungsi, tidak kucium bau comberan, limbah industri pempek panggang tetanggaku yang selama empat bulan terakhir selalu tercium, meski itu tak membuatku sesak napas.

            “Emak!”  Lolongku memanggil ibuku. Tetap tak ada yang merespon.  Kusadari pula bahwa mataku hanya melihat kelam.  Ingatanku tak dapat merekam gambar keseharian yang biasa kulihat, juga tangan kurusku.

            Aku marah, emosi.  Marah pada diriku sendiri yang tak dapat mengendalikan hormon adrenalin dalam tubuhku.  Seluruh otot di tubuhku menegang, aku benar-benar satu sekarang.  Satu dalam nafsu amarah yang menguasai seluruh jalan pikiranku.  Seharusnya aku menyendiri sekarang, aku takut ini tak terkendali dan pada akhirnya merugikanku sendiri.  Semua tampak hitam kelam bergulung-gulung menyatu dengan jasad dan rohku.

            Aku mencoba bangun, tenagaku tak dapat kukuasai.  Semuanya bertambah kacau, meski aku berusaha keras untuk menguasai jalan pikiranku dan menuntunku perlahan kepada realita, tetapi hanya semu yang kudapat.

            Aku tetap berusaha, entah berapa lama aku dalam keadaan bingung, marah, dan putus asa.  Secara perlahan aku dapat mengendalikan syaraf di otakku dan menurunkan hormon adrenalin yang menguasai tubuhku.  Untuk bangun aku belum bisa dan aku hanya bergulingan di atas tempat tidur yang menjadi basah.  Aku terjatuh dari dipan.

            Tubuhku bertambah lemas dan aku hanya mampu bergeser, beringsut sedikit demi sedikit menuju pintu kamar yang bertambah jauh untuk kugapai.  Kemauanku saja yang membuat aku dapat keluar dari kamar.  Sementara, suara gerunganku makin kerap keluar, bahkan hampir tak berselang. 

Aku berhasil merangkak dan bergerak lebih cepat untuk mencari bantuan.  Kemana penghuni rumah ini yang biasanya tak pernah sepi? Bahkan pintu kamar adikku yang bungsu tertutup, biasanya selalu terbuka. “Hah…!?  Sejak kapan kamarnya punya pintu? Dan mengapa dindingnya dicat hitam.”  Semuanya masih kelam.

            Keringat mengucur deras, aku panik.  “Permainan apa ini?  Skenario apa yang sedang kujalani?”  Aku merasa semakin terasing, asing dengan keadaan sekitarku.  Kembali hormon adrenalin menguasaiku, dan aku berhasil berdiri, berjalan tertatih-tatih bertambah cepat, sampai dapat berlari di dalam ruangan yang terasa begitu luas ini.  Aku berlari menuju pintu keluar yang terlihat begitu dekat, tapi tak dapat kucapai.  Aku terus berlari, meski tubuhku tak sanggup lagi ikut serta.

            Pintu itu akhirnya terbuka.  Angin dingin menusuk ke tulang menerjangku, juga awan gelap tak kuundang datang menyapuku.  Dan aku terlempar ke satu tempat yang indah, sangat indah. 

Di tempat ini, semilir angin bagaikan gesekan biola, gemercik air bagaikan alunan melodi musik klasik dari sang maestro, dan bersama suara-suara alam membuat lagu yang mengiringi syair burung-burung dengan pencahayaan dari sang surya.  Dan inilah konser yang maha sempurna di tempat yang menebarkan berbagai aroma bunga.  Aku dapat merasakan kehadiran sahabat-sahabatku dan orang-orang yang kukasihi.

            Sampai aku tersadar benar-benar sadar, napasku memburu. Seluruh otot tubuhku terasa sakit dan pegal-pegal, tenggorakanku terasa gatal dan aku mulai batuk-batuk.

***

 

Parameswara, 18 Desember 2002 (09.16)

Sebuah sajak buat kawan-kawan di dunia cyber.


1    Cogito Ergo Sum Cogitan:  Aku adalah pengada yang berpikir.

Hitam Putih

Posted on March 19th, 2006 in Sajak | No Comments »

Hitam Putih

Cerita Pendek Abaz

Selamat pagi, siang, dan malam….
Tahun lalu aku pernah memberimu printout bunga mawar, dan tahun ini yang aku printout bukan lagi bunga mawar,
tapi daun-daun hitam putih (di layar komputer yang kusewa berwarna-warni), Maaf, harga tinta warna selangit dan kantongku hanya bisa meratap kesepian.
Tahun lalu aku memang pernah berjanji akan memberimu yang aslinya, tapi sampai sekarang kebun mawarku belum lagi berbunga, jangankan berbunga lahan untuk menanam bunga-bunga mawar tersebut telah ditanami pabrik-pabrik dan bangunan perkantoran dan tak ada lagi tempat untuk estetika, sedangkan kebun-kebun yang ada bunga mawarnya, untuk mendapatkannya tidak gratis dan dompetku selalu tertawa lebar ketika mengetahuinya.
Untuk mencuri aku tidak punya keberanian, aku takut ….
Dan sekarang aku hanya bisa mengucapkan rasa syukur, bahwa kita masih hidup, masih bisa melihat ‘Wakil Rakyat’ yang membuat kita semua bingung,
walaupun sakuku tetap saja merasa kesepian.
Aku hanya bisa ‘berucap’ Selamat Ulang Tahun, semoga tahun depan aku masih bisa memberikan ucapan yang sama.
Salam,
;-)

Sekali lagi kupandangi kartu ucapan tersebut, tidak bosan kupandangi gambar hitam putih yang sungguh tidak menarik tersebut, tapi aku tahu bahwa dibalik itu semua terdapat ketulusan hati si pengirim.
Kartu yang sudah agak kusam dimakan hari tersebut terlipat rapi, seperti juga hatiku. Teringat tepat setahun sebelum kartu ini, aku mendapat kartu ucapan dari orang yang sama. Kartu yang sepertinya hanya main-main dan tak punya arti, tapi bagiku sangat berarti dengan gambar bunga mawar yang hampir separuh memenuhi kertas A4 putih delapan puluh gram dan disertai ucapan:

Masih hidup juga, yah?
Sekarang aku baru bisa kirim printout-nya, semoga tahun depan aku bisa kirim yang asli.
Selamat Ulang Tahun…!
Salam,
:-)

Dan setelah sekarang tahun keempat, aku masih saja baru menerima dua buah kartu. Aku sudah rindu dengan ucapan-ucapan konyolnya meski hanya melalui selembar kertas. Aku kehilangan seorang penggemar dan nyata sekali bahwa akulah yang mengaguminya. Padahal mungkin saja ia sekarang sedang merancang kartu-kartu baru untuk orang yang baru.
Sehari setelah hari ulang tahunku keempat setelah kartu pertama dan kedua, aku melihat paket tipis berukuran 3,5 inchi, kurang lebih begitulah, di atas meja belajarku terbungkus dengan kertas daur ulang berwarna kuning kunyit dan tertulis namaku beserta alamat lengkap di sehelai kertas coklat muda, juga dari kertas daur ulang, yang menempel di bagian atas. Kuambil paket tersebut dan kubalik. Tepat seperti dugaanku, nama si pengirim tidak ada dan alamat yang tertera adalah alamat kantor pos tempat asal paket tersebut.

Sekali lagi dugaanku tidak meleset, paket tersebut adalah sebuah disket, wah.. transparan, sehingga aku keliru ketika pertama kali memasukkannya ke drive komputer sewaan yang beberapa bulan ini akrab menemaniku. ‘Penggemar’ku yang biasanya mengirimiku selembar kertas tanpa amplop, sekarang mengirimiku sebuah disket yang dapat memuat beribu-ribu kartu ucapan.

Pukul xx:xx,
Selamat … pagi, siang, sore dan malam … (cocokkan sendiri dengan penunjuk waktu di sudut kanan bawah layar monitor di hadapanmu, itu pun jika kau menggunakan program yang sama denganku)
Empat tahun aku menunggu kesempatan ini
dan aku masih tak mampu mengucapkan secara langsung,
Aku memang pengecut, kalaupun berani itu bukanlah diriku
Aku hanya dapat mengagumimu, mengamatimu, dan mencintaimu dari kejauhan
Aku selalu gagal mematangkan rencanaku dan membuatnya menjadi kenyataan
Menyangkut dirimu, aku takut berterus terang tentang perasaanku
Aku yang selalu optimis dengan segala resiko atas tindakanku, di hadapanmu adalah pengecut dengan selembar kertas yang kugoresi tinta pena atau disket yang berisi kiloan byte kata-kata yang membuatku menjadi penyair tongop menjelepok di sudut kamar menangisi kekalahan ini
Tentang dirimu, aku tak mampu dan tak mau lagi berharap
Meski tak kupungkiri, kehadiranmu dalam mimpi-mimpiku yang membuatku mampu berterus terang pada monitor di depanku dan yang sekarang berada di depanmu
Aku tahu bahwa aku selalu terlambat, dan sekali lagi kalau tak pernah “terlambat” itu bukanlah diriku, aku masih ingin mengucapkan “SELAMAT ULANG TAHUN”
Salam,
:-)

Berkali-kali kubaca file “Selamat ulang tahun” tersebut, sampai air mataku kering. Aku tak berani mengalihkan perhatianku dari monitor di hadapanku. Tak kuhiraukan penyewa di sekitarku juga tak berani kususut air mata yang telah mengering di pipiku yang sebagian membasahi rok hitamku. - Seandainya sekarang kau ada di hadapanku, buanglah keraguanmu tersebut. Tak ada yang mesti dijelaskan. Jangan lagi kirimi aku kartu-kartumu, aku tak butuh. Kirimi aku seekor merpati, agar aku dapat mengatakan, “Apakah aku salah mengartikan kartu-kartumu?” -
***
Selesai di PalembangPada 23 Sept 02, pukul 23.39 Wib

Matinya Seorang Sahabat

Posted on February 23rd, 2006 in Sajak | 2 Comments »

Cerita Pendek Abaz

 

Sahabat, aku tak pernah bermaksud membunuhmu. Maafkan kekhilafanku. Aku tak pernah memperkirakan seperti ini akhirnya. Dalam mimpi pun aku tak akan sanggup membunuhmu. Keegoankulah yang membuatmu mati, meski aku tak pernah menganggapmu mati. Ataukah ini hanya ilusi? Yah, mungkin saja. Beberapa hari ini aku selalu mimpi buruk. Selalu, dalam mimpiku, kau mencaci maki diriku.

Sejak saat itu, jalan hidupku berubah. Aku tak pernah merasa sesepi ini. Kemarin, sendiri aku berselancar di Maldivez, padahal sebelumnya tak pernah aku lakukan. Dan kutelusuri beberapa kota di Korea, ke daerah-daerah bersejarah dan tempat-tempat religius. Hanya mataku yang melihat, tapi otakku tak mampu merekamnya. Ingatanku selalu terkenang perjalanan yang pernah kita lalui bersama.

Masih ingatkah kau pada malam menjelang pergantian tahun 2002 ke tahun 2003 yang lalu? Saat itu kita terjebak dalam rintik hujan di Selatan Jakarta, dan hanya bisa memandangi ribuan kembang api berwarna-warni memenuhi langit Jakarta dari sebuah kedai kopi. Kau bermenung, dan kubiarkan kau aduk-aduk kopimu sampai dingin. Meski pandanganmu menerawang, mata besarmu tak menunjukkan berjuta tanya yang tak berjawab. Meski bibirmu terkatup rapat, ada senyum kedamaian merona di wajahmu. Ingin kubertanya, ada apa? Tapi aku hanya diam, aku hanya bisa membiarkan apa yang kau lakukan, lakukanlah, asalkan kau suka. Aku berpikir, dari sinilah akar penyebab kematianmu. Dari sini pula aku merasa bahwa kau bukan sekedar sahabatku. Ada getar kehangatan dapat menjadi sahabatmu, dekat denganmu, menemanimu minum kopi. Ah.. seandainya waktu dapat berputar kembali ke masa lalu, aku memilih untuk tidak ikut pergi merayakan tahun baru pada masa itu. Terlalu banyak yang dikorbankan dan pada akhirnya menyebabkan kematianmu.

Sekali lagi, aku tak pernah bermaksud membunuhmu.

***

Sabtu yang cerah, pukul sepuluh pagi. Kumulai hariku dengan berbagai kesibukan yang tak perlu. Hari ini akan sibuk sekali, karena banyak pekerjaan kemarin dan kemarinnya lagi belum kuselesaikan. Begitu setiap hari. Memang kuakui, terlalu sering kumenunda pekerjaan. Untung saja pekerjaanku selalu selesai sesuai target, meskipun aku harus tidur larut malam menyelesaikannya. Hari ini aku harus membeli perlengkapan kantor dan kulakoni dengan senang hati, susana hatiku lagi bagus. Aku punya dua tiket untuk konser musik malam ini dan aku tahu siapa yang akan kuajak menikmati konser tersebut.

Pukul tujuh malam aku sudah berdiri di depan pintu rumah sahabatku tercinta. Setelah sedikit berargumen dan akhirnya ia setuju untuk menemaniku malam ini. //Aku tak bisa luruhkan hatimu// dan aku tak bisa menyentuh cintamu//… Sepenggal bait dalam lagu Menanti Sebuah Jawaban yang dinyanyikan oleh Padi tersebut terasa mengena dan menghujam ke dalam benakku. Serasa buah simalakama, tetapi apa mau dikata, aku harus melakukannya malam ini juga. Meski sudah kubulatkan hati, tapi aku tak mampu dan keberanianku terampas oleh keraguan. Dua hari kemudian, baru aku berani menulis pesan singkat lewat perangkat komunikasi yang akhirnya menjadi pilihanku.

Sebelumnya aku minta maaf, karena menyampaikan hal penting ini dengan pesan singkat, seharusnya aku bicara langsung berhadapan denganmu. Mungkin engkau masih ingat pembicaraan kita beberapa waktu yang lalu, bahwa aku akan memberikan kejutan. Yah…, semua yang kita bicarakan waktu itu adalah dirimu, tetapi aku takut kehilangan seorang sahabat, aku takut kau tak bisa menerima kelakuanku ini, dan karena kelancanganku yang tidak menganggapmu hanya sekedar sahabat. Aku memang dilahirkan tidak sempurna, dididik dengan tidak sempurna, cara hidupku jauh dari sempurna. Jika kau suka dengan orang yang tidak sempurna ini, datanglah padaku, maka kau dapat membuatnya menjadi sempurna.

 

Setelah tiga hari yang sangat menyiksa, akhirnya pesanku berbalas. Dan aku telah lama tahu, beginilah akhir episode buah kelancangan seorang sahabat. Jawabanmu sangat jelas, “TIDAK!”, meski kau masih mau bersahabat denganku dan kau tetap sahabatku. Aku yang sudah memperkirakannya, toh tetap terpukul. Aku dapat menerima alasanmu, tetapi aku butuh ketenangan untuk beberapa hari, sampai suasana hatiku normal kembali.

Entah diriku yang tidak dapat menerima kenyataan atau dirimu yang telah berubah, sampai hari ini persahabatan kita hanya tinggal kenangan. Tidak ada lagi pesan singkat, tidak ada lagi collect call, apa lagi saling kunjungi. Yah.. hanya tinggal kenangan. Aku telah membunuh sebuah persahabatan.

_________________

Watervang 141 – 19.09.05 (00:18)

Kupersembahkan kepada sahabat-sahabatku yang merasa kecewa atas semua tindakan yang mengecewakan kalian.